Mengabaikan perasaan

mizi90(35)
Published in
#feeling
Words
930
Reading
5 min
Listen
Play
9y

Seorang anak lelaki usia 3 tahun terjatuh saat berlari, dengkulnya lecet dan berdarah, ada bekas pasir menempel di sekitar kening dan matanya. Ia pun berteriak kencang, air mata mengalir deras. Sang ibu tergopoh-gopoh menghampirinya, “makanya ibu bilang juga apa, jangan lari-lari,dikasih tahu ngeyel. Itu akibatnya kalau gak nurut sama ibu, sakit baru tahu rasa kamu”. Sang Ibu membersihkan luka anak dengan air dan mengobatinya.

Si anak tak berkata apapun, tangisnya mereda entah bersebb apa. Namun bibirnya meringis menahan perih, juga sesak di pojok hatinya. Berulang begitu, bertahun-tahun lamanya.

Lain kali saat si anak marah, saat sang adek merebut mainan miliknya. Ibu datang dan melerai mereka, mengambil kembali mainan miliknya sendiri dan berkata “jadi kakak harus mengalah, masak mainan dipinjam saja tidak boleh”. “tapi kan itu milikku, adek harus ijin dulu kalau mau pakai punyaku”, sanggahnya pada sang ibu. “adek kan masih kecil, belum ngerti: sudah jangan bertengkar gara-gara mainan ! pusing ibu ngeliatnya” jawab sang ibu sambil menggendong adiknya pergi bersama mainan miliknya.

Anak itu terdiam menahan nafasnya, ada rasa sakit tersisa di leher dan dadanya. Rasa yang tak bisa ia definisikan dan kebingungan yang tak bisa ia tanyakan pada siapa-siapa.

Entahlah, beberapa tahun lamanya rasa sakit itu berulang. Dan ia pun memilih diam, membiarkan rasa sakit itu tersimpan rapat : di salah satu pojok hatinya.

Saat ia menangis sedih atau sakit, ayahnya berkata “jadi lelaki harus tegar!”. Ia pun mengusap air matanya, membuat isaknya tak terdengar, tapi ia tak selalu mampu menahan tetesan air matanya. “apakah hanya perempuan yang boleh menangis?”tanyanya dalam hati.

Ah,tapi tidak juga ayahnya sering menegur ibunya yang menangis sambil berkata "jadi perempuan jangan cengeng... gitu aja kok nangis!"

Saat ia kesepian dan merasa rindu, ia mendekat duduk menyandarkan bahunya di samping ibu. Tapi ibunya segera beranjak berdiri dan berkata “ihh apa sih, ngondeli terus … sudah besar juga”. Mungkin enak jika terus menjadi bayi,pikirnya sekelebat.

Saat ia tertawa terbahak-bahak, ayah melotot padanya “huss.. ketawamu gak sopan!”, ia pun segera menutup mulutnya.

Bertahun-tahun kemudian ia menjadi orang yang menutup pintu kamar saat sedih, membenamkan wajahnya dengan bantal agar isaknya tak terdengar. Sedih itu semacam aib yang tak boleh ketahuan. Maka ia sendiri berteman sepi, mengembara dalam perih.

Ia tak tahu harus bagaimana dan berbuat apa, setidaknya air mata yang tumpah membuatnya lega. Ia hanya perlu mencuci muka dan belajar tersenyum ketika keluar dari kamar. Berpura-pura baik-baik saja. Selalu seperti itu, toh juga tak seorang pun di rumah yang bertanya tentang masalahnya. Seperti bertahun-tahun lalu, ia mempunyai ruang untuk menyimpan semua luka dan perih di pojok hatinya, rapat.

Mengabaikan emosi membuat anda sendiri tak bisa memahami apa yang sedang anda alami. Jika gagal memahami emosi sendiri, apakah anda berharap bisa memahami orang lain dengan lebih baik?
Merasa tak dipahami, tak mampu memahami : perasaan inilah yang menjadi sumber frustasi dan kesepian yang tak menepi. Merasa hilang makna,tak berharga bahkan tak bisa menikmati kebahagiaan ; meski anda ikut tersenyum .... nah nah ...


Hari-hari ini terhenyak kaget saat disuguhkan berita tentang ‘betapa tak berperasaannya’ anak anak yang menganiaya gurunya, memukul temannya, melukai dirinya dan tak sopan pada orang tuanya. Anak-anak yang ‘seharusnya’ sopan, imut, lucu dan polos telah berubah menjadi makhluk yang gampang tersulut emosinya secara permanen, mudah melakukan kekerasan karena hal sepele, terbahak-bahak saat melihat temannya terkulai kalah karena tendangannya, bahkan bangga dan sumringah memposting videonya ke media sosial. Kita keheranan ramai-ramai dan bertanya : mengapa mereka hilang rasa ? mengapa ilmu yang mereka pelajari belasan tahun di sekolah tak bisa membuat mereka mengerem hasrat buruk itu dan sejenak berpikir ?

Para ahli telah meneliti, bahwa bagian dari tubuh manusia yang berkembang lebih pesat dan lebih awal adalah emosinya. Emosi manusia berkembang lebih dulu bahkan sebelum ia bisa bicara apalagi berpikir tingkat tinggi.

Apa jadinya jika orang tua tak bisa memahami emosi anak ? padahal lewat emosi dan bahasa nonverbal lah pertama kali anak berkomunikasi dengan orang tua dan sekitarnya ? anak akan lebih sering menangis, kecewa dan frustasi karena merasa tak dipahami. Orang tua pun meninggi tensinya karena tak tahan dengan suara tangisan anak. Karena bingung, dalam keadaan terdesak akhirnya orang tua bertindak shortcut : memarahi anak, membentak, mengancam atau mengabaikan anak. Siklus berputar memanjang. Dan masalah tak kunjung selesai, bahkan memburuk.

Saat emosi begitu memegang kendali, maka jalan masuk ke bagian berpikir di otak tertutup. Karena itu, tak ada yang bisa berpikir jernih saat marah. Maka jangan harap anda bisa mengambil keputusan yang tepat saat terbawa emosi. Apalagi berharap bisa mengendalikan diri dan bertindak benar.
Kita semua harus belajar kembali mengenai hal ini. Itu sebabnya di buku #ParentingReadiness yang saya tulis (Insyaallah open PO Awal Maret ya …. Don’t miss it)
saya menyengaja membahas hal ini dalam satu bab khusus. Mengabaikan perasaan akan membawa efek yang luar biasa dalam perkembangan hidup manusia.

Karena itu kita semua pertama-tama mesti belajar bahwa semua emosi itu adalah hal yang alami, karena kita manusia makanya kita diberi karunia emosi. Terima dan syukuri itu. Dan Allah tidak pernah sia-sia menciptakan sesuatu, termasuk beragam emosi. Manusialah yang kemudian memberikan label negative dan positif pada emosi. Padahal pada gembira, suka cita, sedih, bosan, takut, marah, lega, takjub dll semuanya memiliki makna dan fungsinya sendiri-sendiri.

Terima, pahami apa yang sedang anda rasakan sendiri : ini dulu PR nya. Boleh kok merasa sedih,marah,khawatir, takjub ..... boleh,boleh. Jika anda sendiri tak mengijinkan dan tak bisa mendefinisikan rasa dalam jiwa: lalu bagaimana mungkin anda akan menghadapinya ?

Baru deh kapan-kapan kita ngobrol bagaimana cara mengelola emosi dan berdamai dengan diri yang terlanjur terluka secara emosi, insyallah. Mohon doanya bumil dan adek bayi sehat, selamat dan diberkahi Allah ....

Lanjutan tulisan kedua bisa dibuka di link ini
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10210655414293145&id=1581642123

Mengabaikan perasaan | Ecency