@adamkokesh di Warung Kampungku

Words
489
Reading
3 min
Listen
Play
8y

Di persimpangan jalan di kampung kami ada sebuah warung, sebagai mana di hampir semua kampung lainnya.
Screenshot_2018-05-01-17-56-45-98.png
Warung yang menjual kebutuhan-kebutuhan sehari hari mulai dari gula pasir, minyak goreng, pasta gigi, rokok, jajanan anak-anak, kering atau basah, sabun cuci, sabun mandi, obat nyamuk, telor, indomie, minuman ringan, balsem gosok dan minyak angin, serta rupa-rupa barang lain, yang serumpun.
Screenshot_2018-05-01-17-55-55-17.png
Bangunannya berupa teras rumah yang di renovasi sedikit, diperluas lantainya dengan semen cor.
Beberapa meja diletakkan sebagai tempat meletakkan minuman untuk pengunjung warung,
Screenshot_2018-05-01-17-56-34-86.png
pagi hari biasanya ramai penghuni kampung berkumpul untuk sama-sama menikmati kopi pagi, sebelum berangkat kerja, ngobrol santai tentang kisah kemarin dan rencana hari ini.

Cerita minggu lalu bahkan bulan lalu sering juga dihamparkan lagi ke meja warung, tentu saja cerita lama yang pernah menjadi trending topik saja, pada waktu itu.

Warung di kampung kami adalah media sosial non steemit. Di sini tidak ada tindakan upvote dan down vote, tetapi setiap "konten" akan mendapat komentar yang banyak.
Screenshot_2018-05-01-17-56-58-06.png

Kalau reward tentu ada saja, biasanya dapat bayaran minuman. Minuman kita akan dibayarkan kalau kita belum membayar minuman yang kita minum.
biasanya minuman akan dibayarkan oleh pengunjung yang lebih dulu meninggalkan warung.
Screenshot_2018-05-01-17-56-15-42.png
Dalam situasi seperti ini, anda sudah boleh pesan minuman lagi.
akan terulang mendapatkan bayaran lagi, bila anda masih duduk, pada saat beberapa pengunjung warung yang lain akan beranjak pergi. Minuman andapun akan dibayarkan lagi.

Begitulah tradisi di warung di kampung kami. Minuman yang dijual murah saja, rata rata harga segelasnya 2 ribu, sekira 0.05 sbd menyesuaikan harga hari ini.
Tetapi yang mahal adalah tradisi tadi.

Bila anda tak cukup uang, tapi mendadak harus pergi lebih awal bagaimana?
Solusinya sederhana saja, disini ada buku besar non blockchain, tinggalkan dua kata, lalu pergi. "Tulis dulu!"

Buku besar non blockchain tersebut berisi catatan utang pengunjung. Catatan tersebut jarang ditagih, karena umumnya segera diselesaikan.
Ada satu dua pengunjung yang bandel, tapi tagihannya cukup beberapa kata saja, "bang! udah panjang!"

Kalau kebetulan steemian traveling, bolehlah singgah satu dua jam di sana, Setelah 17 menirt duduk di situ, steemian akan merasa seakan di kampung sendiri.

Kalau malam obrolan di warung lebih semarak, lebih panjang, selain panjang juga lebar, melebar sampai ke konflik suriah, jasad saddam huseiin yang masih utuh, bahkan sampai ke pertarungan adamkokesh@adamkokesh , di benua lain sana.

Ada juga berita lokal yang masuk media sosial ini. Tetapi minimal sekelas terbakarnya sumur minyak peureulak, yang lain internasional news only.
Screenshot_2018-05-01-18-09-54-52.png
Setiap obrolan yang bergulir biasanya disertai dengan data-data yang cukup detail. Data dipresentasikan dengan cukup meyakinkan, seolah yang bercerita baru saja mendapat telpon dari adamkokesh@adamkokesh . Misalnya apa itu semangat libertarian adamkokesh@adamkokesh , dilengkapi juga tentang bagaimana peluang adamkokesh secara statistik dan antropologi politik.
Merosotnya popularitas Trumph, menjadi bagian dari kisah pertarungan perebutan gedung putih.
Data data cukup detail, tapi jangan tanyakan tingkat akurasi, dan sanad. Di sini kami tidak mengedepankan itu.

Bagi pengunjung warung yang penting bebas berargumentasi dan tidak perlu takut salah. Satu hal lagi setiap cerita biasanya berakhir dengan tertawa bersama!
asyik bukan?
Sekian.