“Matanya yang selalu kulihat, penyejuk hatiku, penghilang rasa lelahku, kau lebih dari bunga Desa”..
Begitulah, aku menganggapnya, ku hidup dengan angan yang semu, ku selalu mengharapkan ia agar bisa bersamaku, mungkin aku salah akan perasaanku, aku keliru, aku memang tidak pantas, tapi jangan salahkan aku akan perasaanku. Tolong, jangan salahkan..
Sejak saat aku menerima pesanmu bahwa kau akan diikat olehnya. Pilu hatiku, layu semangatku saat aku mendengar semua itu, rintihanku begitu bergejolak, memuncak laksana landasan roket ke permukaan, bahkan secepat kilat, egoku memutuskan pergi jauh darimu. Kuasingkan mukaku, ku pergi, ku tak sanggup melihatmu bersamanya.
Aku memang tak ikhlas, berontak, mengelak, tak terima, egoku memuncak sangat, ku lemah, saat kau ucap “kau memang mengakuiku bukan siapa-siapa, sebatas teman, sebatas orang yang pernah lewat”. Kau tak peduli, kau memalingkan seolah kau tak pernah tau bahwa aku mengharapkanmu.
Kau sempat bilang, kau bukan siapa-siapa, masih banyak orang yang lebih darimu. Aku membenarkan, aku menjawab apa yang kau maksud, memang banyak orang di luar sana, tapi tak ada yang sepertimu.
Aku juga bingung, aku bahkan salah telah jatuh hati padamu. Mungkin ini takdirku, jalan hidupku, sebagai satu hal yang harus kukenang selamanya, bahwa aku memang mengharapkanmu selamanya, apapun katamu, aku tak peduli, aku tetap ingin seperti apa yang kumau, kalau aku memang mau kamu.
Aku memang bodoh, siapalah aku,
Kau tahu? Aku memang tidak pantas untukmu, mungkin itu caramu menolakku, kau bilang “dia akan mengikatmu dalam waktu dekat”..
Kau pembohong..
Uchie, 16 Agustus 2017, @22.39 WIB
@tumblr