Dalam bab ini menjelaskan tentang religi Aceh karya kamaruzzaman Bustaman Ahmad, PH.D. Hal Yang mesti dipahami ketika membedah Islam di Aceh adalah kenyataan otoritas untuk menjelaskan Islam kepada masyarakat adalah kelompok dayah. Namu seiring dengan perkembagan zaman, masyarakat tidak lagi mendapatkan penjelasan atau penafsiran Islam dari pintu saja, yaitu dayah.
Agama merupakan suatu keyakinan di dalam keyakinan Hindu. Jadi, kalau ditanya apa agama anda? Kalau dijawab: agama saya adalah Islam, maka sesungguhnya orang tersebut memiliki dua keyakinan yaitu Hindu Dan Islam, secara tauhid maka ini sesungguhya tidak konsisten sebagai penganut keyakinan Islam.
Perubahan orientasi belajar ke orientasi kerja menyebabkan manusia hanya berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan finansial semata. Seolah olah menghabiskan umur untuk belajar ditunjukkan pada menumpuk materi sebnayak mungkin, sehingga reproduksi orange bijak di Aceh Sama sekali turun pada titik nadir. Karena orange bijak Yang merupakan orang orang Yang terpilih teruji didalam ruang fan waktu, sama sekali tidak memikirkan material Dan jabatan, setelah selesai menuntut ilmu pengetahuan.
Persoalan pertama Yang tampak dalam kajian Islam di Aceh adalah dari Islam sebagai hasrat religus me Islam sebagai spirit dalam aktifitas politik, perdagangan, Dan ilmu pengetahuan. Satu hal lagi Yang perlu dicatat adalah system keyakian Yang di praktikkan oleh orang Aceh adalah tuntas Dan totalitas dalam berkeyakinan.
Tidak mengejutkan bahwa pusat kesadaran orang Aceh adalah ilmu pengetahuan, khususnya belajar islam. Uniknya, hampir semua lembaga tersebut, berada pada lankskap pertama kehidupan rakyat Aceh yaitu di kawasan pesisir, persawahan Dan sungai.
Beberapa dayah memang Sudah berada di lanskap kedua. Kontek ini memperlihatkan islamogi di Aceh bercorakkan keterbukaan pada ilmu pengetahuan, keras terhadap sesuatu Yang menyalahi akidah islam, Dan saling selip menyelip antara islam Dan kebudayaan.
Namun, pada saat yang sama pemerintah Indonesia menciptakan elit elit baru di Aceh melalu jalur pendidikan formal. Sehingga mereka Yang berasal dari masyarakat ilmu di atas (dayah) mulai redup perannya. Dengan Kata lain kekuatan sosial politik dikontrol oleh pemerintah Indonesia sementara sosial budaya religus, dibiarkan dikontrol oleh masyarakat ilmu.
Adapun masalah lain di dalam memahami religi di Aceh adalah kemunculan generasi baru Yang mencoba menawarkan pendekatan ilmu ilmu sosial Dan humaniora didalam menjelaskan Islam kepada publik. Generasi ini sering dicap dengan istilah sekuler atau liberal. Karena itu mereka lebih diterima di kampus atau dalam diskusi terbatas, baik dalam dunia nyata maupun virtual.
Studi religi pada prinsipnya adalah studi untuk menciptkan manusia Aceh. Karena itu, fondasi acehnologi hendak mengatakan bahwa kenal dengan Islam, sama dengan menuju pada subtansi dari tujuan menjadi Aceh. Dengan demikian tujuan studi religi merupakan proses menjadikan Aceh Karena ke aceh an muncul disebabkan ada studi tersebut Yang telah dipraktikkan oleh para endatu selama ratusan tahun sebelumnya
Dari uraian didalam pembahasan ini, ditegaskan bahwa Acehnologi sejatinya tidak melupakan studi religi di Aceh, sebab kesenyawaan antara Aceh Dan religi merupakan suatu keniscayaan. Karenanya studio Aceh pada era kekinian juga sebenarnya menstudi tentang dinamika prilaku keyakinan Yang ada di Aceh. Harus dimengerti bahwa perubahan dalam bidang sosial Dan budaya Aceh berkembang sangat pesat.