That afternoon I was walking down Sultan Agung street, which is in Jakarta. This I did to enjoy the views of the capital of the country I used to see on television.
Capitalized desperate and my courage to go alone, that day I went by matic motor cycle from my friend whose house is not far from the road Sultan Agung. While my friend was still at work, but to make him not panic I have told him that I did not go alone, but there was another friend of mine who would accompany me to leave.
So a little lie can give me experience in my life to walk through Jakarta.
It turned out that my approach resulted in a new experience that I did not get in my home village in Lhokseumawe. And this experience I want to share with my friends at Steemit. I began to see the street vendors displaying their selling materials, from hats to underwear. Five minutes had me down the road, but none of it has been displayed by street vendors, none of which have interest me to stop my motorcycle.
I again thought what I was looking for in Jakarta, the scenery with the high buildings I had enjoyed a few days ago, jams I already feel on the first day. Apparently there are interesting things that make me stop my bike. It is a display of various types of shoes with various brands tied with string in pairs. I am also happy, it turns out today I can replace my old shoes with new shoes and shoes may be cheap because his shoe tied with a string and hung. Dilhokseumawe usually shoes that are hung like that the price is very cheap. Only expensive shoes are placed in store windows. I also want to buy some pairs of shoes, because the shoes are still good, and I plan to buy and then I sell to my friends in Lhokseumawe.
What is the price of this shoe, mas? I asked the seller while holding the shoes that are usually used by rich youths in my town.
1.3 million! Answer the salesman with a sweet smile.
What? 1.3 too? Ask me with panic.
Yes, I've discounted this with a 30% discount. The salesman replied as he glanced over at my face.
I swallowed after hearing the seller's price. I was thinking, am I being fooled? Did the father I came from Aceh to Jakarta to look for something different. Something I can not get in Lhokseumawe?
----------------Indonesian Language------------
Sore itu saya sedang menyusuri jalan Sultan Agung, yang berada di Jakarta. Hal ini saya lakukan untuk menikmati pemandangan ibukota negera yang dulu Cuma saya lihat di televisi. Bermodal nekat dan keberanian saya pergi seorang diri, hari itu saya pergi dengan kereta matic pinjaman dari teman saya yang rumahnya tidak jauh dari jalan Sultan Agung.
Sementara teman saya masih berada di tempat kerja, namun untuk membuatnya tidak panic saya telah memberitahu bahwa saya tidak pergi seorang diri,melainkan ada teman saya lainnya yang mau menemani saya pergi. Jadi sedikit kebohongan bisa memberi saya pengalaman dalam hidup saya untuk menyusuri kota Jakarta.
Ternyata kenekatan saya itu menghasilkan sebuah pengalaman baru yang tidak saya dapatkan di kampong halaman saya di Lhokseumawe. Dan pengalaman ini yang mau saya bagi dengan teman-teman saya di Steemit. Saya mulai melihat para pedagang kakil lima yang memajangkan bahan jualan mereka, mulai dari topi hingga pakaian dalam.
Lima menit sudah saya menyusuri jalan tersebut, namun belum satupun dari semua yang dipajangkan oleh pedagang kaki lima, belum satupun yang menarik minat saya untuk menghentikan motor saya.
Saya kembali berpikir apa yang sedang saya cari di Jakarta, pemandangan dengan gedung-gedung yang tinggi sudah saya nikmati beberapa hari yang lalu, kemacetan sudah saya rasakan di hari pertama. Ternyata ada hal menarik yang membuat saya menghentikan motor saya. Hal itu adalah pajangan bermacam jenis sepatu dengan berbagai merek yang diikat dengan tali berpasang-pasang. Saya pun senang, ternyata hari ini saya bisa mengganti sepatu lama saya dengan sepatu baru dan mungkin sepatunya berharga murah lantaran sepatunya diikat dengan tali dan digantung.
Dilhokseumawe biasanya sepatu yang digantung seperti itu harganya sangat murah. Hanya sepatu mahal yang ditaruh dalam etalase toko. Saya pun ingin segera memborong beberapa pasang sepatu, karena sepatu tersebut masih bagus-bagus, dan saya berencana membeli untuk kemudian saya jual kepada teman-teman saya di Lhokseumawe.
Berapa harga sepatu ini, mas? Tanya saya kepada penjual seraya memegang sepatu tersebut yang biasanya dipakai oleh pemuda-pemuda kaya di kotaku.
1,3 juta! Jawab si penjual dengan tersenyum manis.
Apa?1,3 juga? Tanya saya dengan panic.
Iya, ini sudah saya beri diskon dengan potongan harga 30%. Jawab si penjual sambil melirik ke wajah saya.
Saya menelan ludah setelah mendengar harga dari si penjual. Saya pun berpikir, apa saya sedang dibodohi? Apa bapak itu saya datang dari Aceh ke Jakarta untuk mencari sesuatu yang beda. Sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan di Lhokseumawe?
Salam kompak buat keluarga NSC