Sebagai rakyat, Abu harus berbelanja di pasar rakyat. Beliau tidak paham tentang belanja online yang katanya tinggal klik saja. Abu selalu memenuhi kebutuhan melalui pasar rakyat, di mana penjual dan pembeli bertemu secara langsung bertransaksi dalam bentuk tawar-menawar.
Pada pasar rakyat, Abu melihat bermacam-macam peukateun (perangai). Wajar saja menurutnya, sebab di sinilah pusat bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang.
Abu bermaksud membeli kain sarung dan kopiah turki. Beliau ingin menyambut bulan puasa. Selama ini Abu tidak memiliki sarung yang bagus. Niatnya untuk membeli sarung baru, lazim terkalahkan oleh rasa malas bepergian ke pasar.
Seperti biasa, Abu selalu menikmati secangkir kopi di warung langganan. Tampilan kopi pasar berbeda dengan warkop biasa. Ada tambahan aksesori yang menutupi cangkirnya. Hal ini bertujuan agar kopi tidak tercemar oleh debu jalanan.
Usai berbelanja, Abu pulang naik angkutan umum (labi-labi) tujuan desa Kumoto. Di dalam labi-labi, Abu bertemu dengan Abu Bining. Mereka saling berkisah tentang kenikmatan kopi pasar yang super premium.