Abu Thailand mulai menjemput kembali hobi lamanya yang pernah terkubur di dalam sumur. Beliau hendak memproduksi lagi dinding anyaman dari pelepah rumbia.
Sebuah industri rumah tangga memesan dinding rumbia dalam jumlah yang lumayan. Mereka mengalami kesulitan untuk memesannya langsung pada tenaga ahli yang terampil dan berpengalaman. Untung saja, Sakapol berhasil mempertemukan pemilik industri dengan Abu Thailand.
Kesepakatan pun telah bulat. Di hadapan Sakapol dan pemilik industri, Abu Thailand berjanji akan merampungkannya dalam waktu satu bulan. Pemilik industri pun merasa lega, beliau mendapat potongan harga yang romantis dari Abu Thailand.
Tabiat Abu Thailand sungguh tak patut ditiru. Beliau mudah lalai jika diberikan uang jaminan. Bersama uang jaminan itu, Sakapol juga mendapatkan serpihan. Sakapol boleh meminta apa saja asalkan tidak melewati harga di atas satu juta rupiah. Sakapol membeli anak kambing, Sakapol membeli ayam dan bebek. Sakapol benar-benar menikmati serpihan dari Abu Thailand.
Sebulan kemudian, Abu Thailand benar-benar hanyut dalam kelalaian. Hobi lamanya sebagai sosok pengrajin anyaman dinding pelepah rumbia tak pernah muncul ke permukaan. Beliau terpaksa berurusan dengan dua pemuda berambut panjang yang memakai pakaian preman. Abu Thailand harus menjual kembali kulkas empat pintu yang baru saja dibelinya.