Gulai Kerang dari Ihan Sunrise

Words
164
Reading
1 min
Listen
Play
9y

IMG_20180131_130345.jpg

“Mau gulai kerang? Kalau mau, aku bawain,” begitu pesan dari ihansunrise@ihansunrise masuk ke whatsapp messenger saya, ketika kami akan bertemu di sebuah acara. Mendengar kata ‘kerang’, tidak pakai lama, saya langsung menjawab ‘ya’. Saya sangat menyukai kerang tetapi di sini saya jarang memakannya. Terakhir kali saya makan kerang adalah saat kami mudik ke Aceh Selatan lebaran lalu. Itu adalah kerang yang diambil dari sungai Pasie Lembang—sebuah desa yang berada di Aceh Selatan. Kerang Pasie Lembang adalah kerang paling enak yang pernah saya makan. Meski demikian, tak ada kerang Pasie Lembang, buat saya, kerang apapun boleh, yang penting kerang.

Ihan mengolahnya menjadi gulai kerang. Kami di Aceh Selatan menyebutnya peuleumak, menu favorit orang Aceh Selatan. Jangankan kerang, sayur bayam pun kami peuleumak alias dimasak pakai santan. Haha. Maka, menemukan makanan kesukaan yang diolah dengan cara dipeuleumak, menerbitkan kegirangan bukan kepalang.

IMG_20180131_130325.jpg

Yang memberi pasti lebih bahagia.

Ya, berbagi makanan itu membahagiakan. Bahagia karena bisa berbagi rezeki. Apabila yang menerimanya menunjukkan penerimaanya dengan sukacita, bertambah lagi kebahagiaannya.

eky 2.jpg

Gulai Kerang dari Ihan Sunrise | Ecency