Teriak Mahasiswa! Pemerataan Pembangunan dan Pendidikan

Words
403
Reading
2 min
Listen
Play
8y

Sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Aceh Barat, melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran Simpang Pelor, Meulaboh. Aksi ini memperingati 20 tahun reformasi. Dalam orasinya, mahasiswa menuntut kepada pemerintah agar mempercepat pembangunan infrastruktur pubik dan pemerataan mutu pendidikan di seluruh pelosok Negeri ini.

Sudah 20 tahun reformasi Indonesia, namun berbagai kekurangan masih ditemukan di dalam Negeri. Seperti belum meratanya fasilitas pendidikan yang memadai. Selain itu masih banyak infratruktur yang masih sulit dilalui kendaraan. Hal ini membuat mahasiswa kembali turun ke jalan guna mendesak pemerintah segera memperbaikinya.

Mahasiswa membawa spanduk dan poster-poster yang bertulisan tuntun mereka. Disatu sisi saya menialai ada benarnya juga mereka melakukan aksi karena masih belun meratanya pembangunan dan pendidikan. Beberapa waktu terakhir saya sempat jala-jalan ke daerah pelosok yang ada di Kabupaten Aceh Barat.

Berikut video mahasiswa demo:

Kecamatan Sungai Mas, Pante Ceureumen, Woyla Timur, di riga kecamatan tesebut masih saya temukan jalan menuju pusat kecamatan belum teraspal, rurak para dan belum adanya jembatan penghubung antar desa maupun kecamatan.

Di Kecamatan Pante Ceureumen, juaga masih di desa terpencil yang belum ada akses jalaan aspal dan jembatan, Desa Sikundo namanya. Saya pernah mendatangi desa tersebut, untuk menuju ke Desa Sikundo saya harus berjalan kaki sekitar tujuh kilometer, melewari tebing gunung dan melintas di tepi sungai. Lebih parahnya lagi, saya harus masuk ke dalam dalam sungai untuk menyeberang, karena tidak ada jembatan dan perahu.

Disana juga ada sekolah, namun sudah tidak di gunakan lagi, karena letaknya di seberang sungai sehingga siswa dan guru tidak bisa kesekolah, sangat berbahaya. Sekolah tersebut kini mulai hancur dimakan usia. Halam sekolah mulai menjadi hutan.

Selain ini desa ini juga belum tersentuh aliran listrik. Setiap harinya warga menggunakan lampu teplok sebagi penerangan. Selama kemerdekaan Republik Inonesia warga di sana belum tersentuh fasilitas yang layak.

Berikut video singkat kondisi Desa Sikundo:

Saya juga pernah menuliskan postingan belum adanya jembatan penghubung antar desa di Kecamatan Sungai Mas. Disana siswa yang hendak bersekolah terpaksa harus menggunakan rakit setiap harinya. Padahal sungai yang dalam dan arus yang kencang sangat berbahaya bagi keselamatan siswa dan warga setempat. Kondisi seperti ini, telah berlangsung sebelum reformasi hingga kini.

Beberikut video singkat kondisi siswa pergi ke sekolah sebrangi sungai gunakan rakir:

Mungkin masih banyak daerah lain di Indonesia yang bernasip sama. Padalah indonesia telah melalui masa reformasi 20 lalu. Tapi saya masih optismin bahwa Indonesia akan maju dari sekarang. Saya juga ikut bahagia, kini Papua mulai memiliki jalan seperti di daerah lain di Indonesia.

IMG_20180411_200457.png

Teriak Mahasiswa! Pemerataan Pembangunan dan Pendidikan | Ecency