Halo para sahabat ku dan para Hivers Indonesia. Selamat siang semuanya, semoga kalian terus diberi kesehatan dan kebahagiaan oleh Tuhan ya.
Di postingan kali ini, aku mau sharing pendapatku soal lingkungan sekitar kita. Kemarin sore, aku baru saja antar penumpang ke rumahnya. Pas tiba di depan rumahnya, langsung deh mataku tertarik ke sungai yang ada di situ. Pepohonan tumbuh subur banget, daun daun pisang bergoyang gitu, angin sepoi sepoi bertiup, suasananya adem banget kayak lagi dipeluk alam.
Tapi sayangnya, sungai ini kayak lagi menangis pelan. Airnya keruh, pinggirannya penuh sampah. Ada sampah organik, sampah rumah tangga, sampai plastik plastik yang berserakan di mana mana. Padahal tempatnya potensial banget buat jadi spot hijau yang bikin hati tenang, tapi malah jadi korban kelalaian kita semua. Aku berdiri sebentar di situ, ngeliatin pemandangan itu sambil mikir. Kok bisa ya, alam yang seindah ini kita biarin kotor gini? Padahal kalau kita jaga sedikit aja, pasti beda ceritanya.
Aku pun akhirnya turun ke pinggir sungai buat lihat lebih dekat. Airnya mengalir tenang banget, kayak lagi meditasi. Pepohonan di sekitarnya tumbuh subur, daun-daun pisang hijau segar, rumput-rumputnya juga kelihatan sehat. Pemandangannya sebenarnya bisa banget jadi background foto estetik kalau nggak ada tamu tak diundang (Sampah plastik yang hanyut). Tapi tetep aja, di sana sini masih ada plastik-plastik yang nempel manja di pinggiran rumput. Kayak sampahnya lagi main petak umpet gitu. Dari yang aku amati, sepertinya warga sekitar sering buang sampah ke sungai. Bukan cuma yang tinggal persis di pinggir, tapi juga yang dari agak jauh. Sampah plastik hanyut dari hulu, lalu nyangkut di sini. Jadi bukan salah satu atau dua orang doang, tapi kayak sudah jadi kebiasaan kolektif.
Intinya, masih banyak dari kita yang belum sadar betul kalau sungai ini bukan tempat pembuangan akhir. Sungai itu rumah buat ikan, tempat buat tanaman tumbuh, dan juga bisa jadi paru-paru kota kalau kita rawat dengan baik. Bayangin aja, kalau semua orang mikir "ah, cuma satu plastik kok", besok besok sungainya bisa berubah jadi sungai sampah beneran.
Di sungai ini ternyata ada yang lagi mancing loh. Aku lihat ada bapak-bapak sama anaknya lagi asyik memancing di pinggir. Langsung deh aku dekati dan iseng nanya, “Pak, ikan apa aja yang biasa naik di sini?”
Bapaknya jawab santai, biasanya ikan lele sama ikan nila. Aku langsung dalam hati, “Wah, ikan tangguh banget ya.” Bayangin aja kalau airnya bersih dan nggak tercemar, pasti banyak spesies ikan lain yang bisa hidup di sini. Ikan lele sama nila memang juara bertahan di air kotor, mereka kayak superhero yang kebal racun limbah. Tapi aku jadi kebayang, dulu sebelum manusia modern sibuk mencemari, sungai ini pasti ramai banget sama ikan-ikan lokal yang lebih beragam. Sekarang? Hanya yang kuat adaptasi aja yang tersisa. Yang lain pada angkat koper pergi atau malah jadi korban. Sedih sih, tapi ini jadi pengingat buat kita semua.
Jadi, dari pengalaman kemarin sore itu, aku sadar kalau lingkungan nggak akan berubah kalau kita cuma diam dan ngeluh. Sungai yang indah ini bisa kembali segar kalau kita semua mulai dari hal kecil. Mulai dari nggak buang sampah sembarangan, bawa kantong sendiri kalau belanja, atau sekadar ngingetin tetangga di sekitar. Bayangin aja, kalau tiap orang punya sedikit kesadaran, anak cucu kita nanti masih bisa mancing ikan sambil dikelilingi pepohonan hijau, bukan tumpukan plastik.
Kita semua punya peran. Nggak perlu nunggu pemerintah atau orang lain dulu. Mulai dari diri sendiri aja dulu, siapa tau besok-besok sungai ini balik jadi tempat yang bikin hati adem lagi. Yuk kita jaga bersama, biar alam nggak cuma cantik di foto, tapi juga sehat buat kita semua.
Terima kasih udah baca sharingku hari ini.
Tetap semangat jaga bumi kita!