Suplemen untuk Pekerja Tambak

Words
156
Reading
1 min
Listen
Play
9y

acehpungo-20171228-0002.jpg

Tiap pulang kampung, saya sering menghabiskan waktu di tambak. Orang tua saya menyewa tambak itu selama lima tahun seharga Rp6 juta. Hasil tambak itu cukup untuk biaya hidup sehari-hari.

acehpungo-20171228-0005.jpg

Hidup petani tambak memang tidak semakmur dulu ketika hasil panennya melimpah: ikan bandeng dan udang windu. Kini, banyak petani tambak harus gigit jari karena hasil panennya tidak seberapa. Udang sering mati sebelum masa panen, begitu juga ikan bandeng sukar sekali berkembang. Pun begitu, bekerja sebagai petani tambak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

acehpungo-20171228-0008.jpg

Saat di kampung, saya sering menangkap udang dengan cara kemeukub, yaitu dengan berendam di dalam air sementara tangan meraba ke sana kemari. Udang biasanya berdiam di dasar air dan tidak bergerak sehingga mudah ditangkap.

acehpungo-20171228-0011.jpg

Selain udang, kepiting adalah hasil tambak yang juga bernilai ekonomis. Anak muda sering menghabiskan waktu menangkap kepiting dengan cara memasang perangkap atau menyenter di malam hari. Hasilnya lumayan, sebagian untuk dijual dan sebagian lagi dimakan sendiri atau dimasak dengan mie.
acehpungo-20171228-0003.jpg

acehpungo-20171228-0012.jpg

acehpungo-20171228-0010.jpg

acehpungo-20171228-0001.jpg

acehpungo-20171228-0007.jpg

acehpungo-20171228-0006.jpg