Perempuan Penjual Ikan

Words
559
Reading
3 min
Listen
Play
8y

P_20180319_084409.jpg
Penjual ikan di pasar Luengputu, Pidie Jaya

Deretan perempuan duduk berjajar, sambil memanggil-manggil pelanggan untuk membeli dagangannya. Berbagai jenis ikan segar ditumpuk-tumpuk di depannya. Ada yang sudah dipesing ada juga masih utuh.

“Ungkot nuek? Udeung na, bileh na, sure na, tiram na. Ungkot pue yang galak dron? Joek peng limong blah ribe. Cok jue.” (Ikan Nak? Udang ada, bilis ada, tongkol ada, tiram ada. Ikan apa yang suka kamu? Kasih duit lima belas ribu. Ambil terus). Sambil memasukkan satu tumpuk udang segar ke dalam kantong plastik dan memberikannya kepadaku.

Begitulah kesan pertamaku saat berbelanja ikan di Pasar Nasabe Peunayong, Banda Aceh. Aku terlihat seperti orang kebingungan karena heran melihat perempuan penjual ikan itu.

15925717_WZqEvF-PzHLQbR3wGJLLKURCnEgmXEwHAx5bjVtJFeM.jpg
Sumber

Di kampungku Aceh Selatan, tidak ada perempuan yang menjual ikan. Pekerjaan itu biasanya dilakoni oleh lak-laki, bahkan dulu perempuan yang berbelanja ke pasar ikan pun dianggap tabu kerena pasar ikan dipenuhi oleh kaum laki-laki.

Aku orang yang sangat risih saat berbelanja ikan ke pasar ikan. Selain tempatnya yang didominasi laki-laki, bau amis ikan membuatku pusing setiap kali memasuki pasar ikan. Aku hanya bisa bersembunyi di punggung Makku sambil menutup hidung, bila Mak mengajakku ke pasar ikan.

Sampai akhirnya saat kuliah ke Banda Aceh, aku tidak pernah membeli ikan ke pasar ikan kecuali ikan yang sudah dimasak di warung makan.

Selesai kuliah, aku masih tetap di Banda Aceh. Namun, uang belanja tentu harus kucari sendiri alias tidak ada lagi kiriman dari kampung, jadi aku harus berhemat. Hidup gaya anak kuliah yang dulunya apa-apa harus siap saji, harus kutinggalkan. Aku harus bisa memasak sendiri dan tentunya harus bisa berbelanja ikan dan bahan dapur.

Untunglah ada para perempuan penjual ikan ini di pasar ikan Peunayong, jadi setiap aku ingin berbelanja ikan segar selalu kutuju kepada mereka. Memang di tempat ini masih dominan penjual ikannya laki-laki. Para perempuan ini hanya diberi tempat di paling pojok pasar. Di situ berderet para penjual ikan perempuan yang rata-rata usianya lebih dari 45 tahun. Kepada merekalah biasanya aku membeli ikan dan memilih ikan yang kusuka.

Penjual Ikan di Pidie Jaya

Dua bulan yang lalu saat meet up KSI Chapter Pidie, aku diajak ihansunrise@ihansunrise menginap di rumah neneknya di Teupian Raya, Geulumpang Minyeuk, Pidie.

P_20180319_084432.jpg
Pajak ikan Luengputu, Pidie Jaya

Paginya kami pun pergi ke pasar Luengputu, Pidie Jaya untuk berbelanja. Sesampainya ke pasar, aku melihat di pasar ikan didominasi oleh perempuan. Rata-rata penjual ikannya perempuan, sedangkan yang membeli ikan ialah kaum laki-laki.

Aku sempat heran dan bertanya kepada Kak Ihan. “Kok rata-rata penjual ikannya perempuan kak?”

“Kalau di sini memang begitu, kebanyakan yang jualan adalah perempuan.” Dia menjawab singkat pertanyaanku sambil memilih bumbu masakan yang akan dibelinya dan penjualnnya juga perempuan.

P_20180319_084356.jpg
Penjual bumbu masakan di pasar Luengputu, Pidie Jaya

Aku kagum kepada perempuan penjual ikan ini, demi mencari rezeki yang halal mereka mau berjualan sekalipun berjualan ikan. Aku sempat terpikir dari mana mereka mendapatkan ikan-ikan itu? Apakah mereka juga melaut? Sungguh para perempuan ini luar biasa.

Di daerahku tabu bagi perempuan berprofesi sebagai penjual ikan, tapi tidak untuk daerah lain seperti Banda Aceh dan Pidie. Mereka rela bergelut dengan bau amisnya ikan dan kemudian ketika pulang ke rumah harus memasak makanan lagi untuk keluarganya.

Bila ada yang mengatakan perempuan itu lemah, dia hanya melihat dari sudut pandang perempuan di kartu tanda penduduk (KTP) yang berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Padahal apa saja bisa dilakukan oleh perempuan asalkan dia mau dan bersedia melakukanya.

Perempuan Penjual Ikan | Ecency