Jembatan Krueng Tingkeum di Kutablang, Bireun, Propinsi Aceh yang rusak parah sejak awal tahun 2017 dan tidak bisa dilalui sama sekali, sehingga arus lalu lintas pada ruas jalan negara tersebut yang menghubungkan Jakarta dan Banda Aceh terpaksa dialihkan melalui jalan kampung yang sempit dan rusak karena tidak ada alternatif lain untuk dilewati.
Perbaikan mulai dilakukan sejak bulan Maret 2017 dan diharapkan akan selesai dan bisa digunakan kembali pada bulan Februari tahun 2018.
Kesulitan yang dialami oleh pengguna jalan negara yang telah dialihkan melalui jalan kampung yang sempit dan rusak tersebut, ternyata melahirkan ide dan kreatifitas bagi mereka yang melihat ada peluang bisnis dalam kesulitan itu.
Kreatifitas masyarakat kampung yang membuat rakit penyeberangan untuk kenderaan roda empat berbayar merupakan embrio pra jalan toll di jalan Medan ke Banda Aceh. Kreasi ini menghasilkan uang dan menampung tenaga kerja warga desa secara bergiliran selama 24 jam tanpa henti. Dengan tarif Rp. 30,000,- untuk satu kenderaan roda empat, para pengguna jasa rakit toll tersebut merasa tidak keberatan dan merasa nyaman. Apalagi ketika mereka tahu bahwa ada bagian untuk kepentingan umum dalam jumlah yang mereka bayar tersebut. Maka mereka lebih memilih naik rakit berbayar daripada melewati jalan sempit dan rusak walaupun gratis.
Ternyata seutas tali yang menghubungkan dua tepi sungai dan menggantung seutas tali rakit penyeberangan mampu menghadirkan ekonomi kreatif bagi masyarakat seputar Krueng Tingkeum. Seutas tali yang menciptakan lapangan kerja bagi mereka yang kreatif tanpa kehadiran pemerintah.
Hanya dua rakit yang tersedia dan dan masing masing menampung tiga unit kenderaan ringan.
***image.jpeg
Aktifitas rakit penyeberangan tetap berlangsung dengan tingkat kehatihatian yang waspada?
Entah sampai kapan kerja saling menguntungkan ini akan berakhir.