TUAN Moh. SOLEH

Words
681
Reading
4 min
Listen
Play
8y

KH. MUHAMMAD SHOLEH

(Penulis : Ahmad Zainuddin)

KH. Muhammad Sholeh, adalah Anak bungsu dari 8 bersaudara dari Syekh Hasan munadi dan Nyai Mas Muninten.
Syaikh Hasan Munadi adalah seorang mursyid Naqsyabandi uluwiyyah yang hidup sampai pertengahan abad 18.
Sang Istri, Nyai mas muninten adalah seorang putri dari keluarga kerajaan Sumedang Larang, Sumedang Jawa barat.
Nyai Mas muninten adalah seorang wanita yang sakti.
Ada cerita menarik, saat itu keluarga kerajaan mengadakan sayembara, yaitu barang siapa yang sanggup mengalahkan kesaktian Nyai Mas Muninten maka akan menjadi suami Nyi Mas muninten. Banyak laki-laki yang ikut sayembara , baik dari kalangan orang biasa, kalangan santri maupun dari kalangan pangeran/bangsawan.
Diadakanlah pertandingan adu kesaktian untuk mengalahkan sang putri. Dan tidak ada seorangpun yang sanggup mengalahkan kesaktian sang putri.
Di akhir-akhir pertandingan, muncullah seorang pemuda, keluarga sang putri kaget karena kenal dengan pemuda itu, dia seorang tukang pencari rumput kuda-kuda keraton, dia adalah HASAN MUNADI, orang-keraton tidak ada yg tahu dan kenal darimana asal usul pemuda itu, menurut cerita, pemuda itu seorang santri dari Cirebon dan Masih keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Singkat cerita, Hasan Munadi mampu mengalahkan kesaktian Nyai Mas Muninten.
Ternyata keluarga keraton tidak tepat janji karena tidak rela putrinya, Nyai Mas Muninten Dinikahkan dengan yang menurut mereka hanya seorang pemuda biasa, tukang rumput lagi.
Akan tetapi Nyai Mas Muninten tetap konsisten, tetap bersikukuh menerima pemuda Hasan Munadi menjadi suaminya karena bisa mengalahkan kesaktiaannya.
Kemudian sang putri nekat menikah dengan Hasan munadi, konsekuwensinya harus pergi dari keraton Sumedang.
Pergilah keduanya ke Gempol Bangil Pasuruan, ditemami oleh paman Hasan Munadi yang bernama Kyai Abdul Syukur. Yang Makamnya satu lokasi dengan makam Syekh Hasan Munadi, didesa bangle, Beji, Bangil.
Dengan Nyai Mas Muninten, Syekh Hasan Munadi mempunyai 8 putera/i, 4 putera dan 5 puteri.
Dari putrinya yang bernama Nyai Fatimah adalah nenek dari Almaghfurlah Mbah Abdullah (mbah Dul), seorang Auliya majdzub, yang dimakamkan di Kota Bangil.
Diantara putera-putera Syekh Hasan Munadi Yang meneruskan estafet kemursyidannya adalah putera bungsu, yaitu KH. Muhammad Sholeh, yang wafat tahun 1925 dan dimakamkan di Malang.
Ada kisah, ketika Syekh Hasan Munadi mendekati wafat, beliau mengumpulkan semua puteranya, dan meminta kepada semua puteranya, siapakah diantara puteranya yang sanggup memberikan roti hangat dan kurma yang masih segar dari Mekkah. Ternyata puteranya tidak ada yang sanggup, kecuali si bungsu yaitu Muhammad Sholeh, lalu si bungsu minta izin masuk kamar sebentar, sejenak kemudian keluarlah dia dari kamar sambil membawa sepotong roti hangat dan kurma yang masih basah seperti baru dipetik.
Kemudian tersenyumlah Syekh Hasan Munadi sambil berkata:
"Sepeninggal Abah Kamulah penerusnya (kemursyidan)".
KH. Muhammad Sholeh menikah dengan nyai Kardinah(pandean Malang).
KH. Muhammad Sholeh hijrah ke Malang, memilih dan menentukan tanah untuk tempat tinggal dan padepokan bukan asal memilih tapi didapat dari petunjuk Allah dengan riyadhoh.
Murid-murid yang ikut babat alas dan membangun tempat tinggal beserta padepokan diharuskan terua berdzikir terutama secara sirri, baik saat membabat pohon, membangun dan bertani.
Ketika itu, seorang murid yang ingin berbaiat tidak langsung di baiat tapi mengabdi terlebih dahulu, membabat pohon dan bertani, baru di baiat.
Syekh Muhammad Sholeh sebagaimana seorang Auliya', seorang Hamba yang dekat Kekasihnya juga banyak karomahnya, bahkam Nyai Kardinah juga menurut cerita banyak karomahnya.
(tidak begitu penting untuk penulis ceritakan).
KH. Muhammad Sholeh mempunyai 5 putera dan 2 puteri:

  1. Nyai Siti Hamdiyah
  2. K.Ahmad Saifullah
  3. K. Saiful Rasul
  4. K. Imam Mahdi
  5. KH. Abdul Khayyi
  6. Nyai Nursiatin
  7. Abdul Rosyad (wafat masih remaja)

Sepeninggal KH. Muhammad Sholeh (yang Wafat tahun 1925), yang meneruskan kemursyidannya adalah Nyai kardinah dan Hj. Siti Hamdiyah (tapi untuk kalangan keluarga).
Kemudian dilanjutkan oleh K. Ahmad Saifullah,
Setelah itu diteruskan oleh KH. Abdul Chayyi Muhyiddin Al Amin.
KH. Abdul Chayyi Muhyidin wafat tahun 1987 dan dimakamkan di pemakaman keluarga, sufat Malang.
Kemudian kemursyidan diteruskan oleh almaghfurlah KH. Sholeh Hudi Muhyiddin Al Amin, yang baru beberapa bulan meninggalkan kita semua.
Mudah-mudahan kita semua, terutama anak cucu dan murid-muridnya, tetap istiqomah dengan ajaran dan ilmu yang sudah kita terima, menjalanka dengan tulus karena Allah, menjalankan syariat dengan baik, meneladani akhlaknya yang luhur, tetap sambung secara bathiniyyah sampai wushul kepada Allah 'azza wa jalla.

اللهم انفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم وامتنا فى طريقتهم ومعافات من الفتن

لهم الفاتحة ................
image

TUAN Moh. SOLEH | Ecency