Tersebutlah kisah seorang ulama dan hakim
besar pada zamannya, Ibnu Hajar al-Asqalani,
yang hidup dalam kemewahan. Pulang pergi
dari kantor ke rumahnya saja selalu dikawal
arak-arakan mewah dengan kuda-kuda
pengiring. Hingga suatu waktu, seorang
Yahudi Mesir nan miskin nekat mencegat
kawalan tersebut.
"Izinkan saya menanyakan sesuatu padamu,
wahai Ibnu Hajar!" teriak si Yahudi tersebut.
Ibnu Hajar pun berhenti dan mempersilakannya.
"Bukankah dalam hadis Nabimu dikatakan,
‘Dunia itu ibarat penjara bagi orang beriman
dan surga bagi orang kafir?’ (HR Muslim).
Lantas, bagaimana dengan kondisi kita ini?
Engkau seorang mukmin dan hakim besar
di Mesir ini, ternyata engkau ada dalam
sebuah arak-arakan mewah. Sedangkan,
saya yang 'kafir' ini justru berada dalam
kesengsaraan," tutur si Yahudi.
Ibnu Hajar memahami pertanyaan si Yahudi
miskin tersebut. Secara penampilan saja,
kondisi mereka berdua sudah jauh berbeda.
Ibnu Hajar dengan gemerlap pakaian
mewahnya, sementara Yahudi si tukang
minyak tersebut berpakaian lusuh lagi kotor.
"Begini. Saya dengan kemewahan dunia ini
jika dibandingkan dengan kenikmatan surga
di akhirat kelak maka saya ibarat sedang
terpenjara. Sedangkan, engkau yang menderita
di dunia ini jika dibandingkan dengan azab
neraka yang menunggumu di akhirat maka
engkau saat ini ibarat seperti di surga," kata dia.
Inilah paradigma yang ingin diubah oleh
Ibnu Hajar. Menjadi seorang mukmin tidak
identik dengan kemelaratan hidup. Tidak benar
jika ajaran Islam mengajarkan umatnya
untuk memilih hidup miskin.