Kali ini saya Akan mereview mengenai politik Aceh karya Pak kamaruzzaman Bustaman Ahmad
Diskusi mengenai Aceh tidak dapat di lepaskan dari praktik politik Yang dilakukan oleh orang Aceh. Konsep Politik secara teriotik, dapat dicari Dan digali di Aceh, hanya saja, persoalan nya adalah bagaimana memahami konsep politik Aceh secara filosofis. Tentu saja melalui pengkajian secara sosio historis dan sosio politik akan ditemukan bagaimana konsep konsep politik Aceh Yang pernah dipraktikkan oleh endatu orang Aceh.
Adapula pemikir politik Yang berupaya untuk menyatukan untuk melakukan okupasi terhadap kerajaan kerajaan di tanah melayu. Tidak lupa pula para pemikir Yang berusaha untuk menyatukan orang Aceh untuk berjuang melawan penjajah.
Karena itu mengkaji politik Aceh harus melihat beberapa aspek, yakni aktor, perestiwa, pengaruh luar Aceh, konsep Yang diterapkan Dan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam abad ke 21, aktor penentu Aceh secara strategis adalah mereka telah berjuang selama 3 dekade. Sebelumnya aktornya merupakan para ulama Yang telah menggeser peran Ule Balang. Sementara itu, pada era Orde baru, aktor aktor politik Yang direstui oleh republik Indonesia adalah kelompok elit komplik elit politik Dan tekhnorat Yang tergabung di dalam golongan karya (golkar).
Adapun pengaruh dari luar Aceh terhadap tatanan politik di Aceh juga sangat perlu dikaji secara mendalam. Pengaruh tersebut diantaranya muncul di Arab Dan Persia, terutama di dalam bahasa politik. Tidak hanya itu di halaman 705, Azra menukilkan bahwa: penggunaan kosakata politik Islam dapat dipastikan menjadi meluas ketika institusi politik Islam mulai berdiri pada akhir abad ke 13
Dengan tegaknya kerajaan (kesultanan) samudra pasai. Adapun pengaruh turki utsmani juga cukup dirasakan dalam pembinaan politik, dalam sejarah kerajaan Aceh darussalam.
Konflik sesama orang Aceh, selama 10 tahun terakhir, tampaknya Yang tidak pernah menemui ujung. Dewasa ini, konsep musoh mulai muncul dari daerah tingkat dua ketingkat satu. Gubernur dimusuhi oleh pihak lawan lawannya Yang merupakan kawan binaannya selama puluhan tahun. Wakil gubernur Dan elit elit Yang sudah mapan, juga menjadi musoh dari kalangan Yang tidak sejahtera, selama 10 tahun damai.
Dalaam tradisi pemerintahan kerajaan Islam di Aceh, raja dibayangkan sebagai bayangan Allah dimuka bumi. Karena itu mutlak bagi dia untuk menjalankan semua pemerintah Allah sebagai sultan. di Aceh, raja atau ratu dipanggil dengan sebutan khalifah atau amiral mukminin. Konsep kerajaan Yang bersifat transedental ini menyebabkan, semua perilaku sultan tidak menyalahi aturan aturan Allah. Adapun makna daripada sultan itu sendiri adalah otoritas, kekuasaan, pengatur atau pemerintah.
Dengan demikian, seseorang Yang mendapatkan mandat untuk memiliki otoritas di dalam melakukan roda pemerintahan haruslah melakukan dua hal yaitu adil Dan ihsan. Inilah salah satu fondasi pemerintahan Yang dilakukan didalam kerajaan Aceh.
Dalam hal ini, pemerintah Indonesia menerapkan strategi mengunci semua kekuatan separatisme di Aceh. Bagi Yang tidak ingin bicara merdeka, akan dibina melalui akses pada materi Dan posisi. Sementara kelompok kelompok Yang masih memanggul senjata, baik atas mama kekecewaan ataupun ideologi. Tentu akan dibinasakan atas nama separatist, kriminal, atau bahkan teroris.
Jadi, studi politik Aceh memiliki lanskap Yang amat panjang, mulai dari abad ke 8 hingga abad ke 21 M. Dalam retang waktu 13 abad lamanya, tanah Aceh menjadi saksi berbagai peristiwa politik berlaku. Dibalik itu juga, darah dan penderitaan rakyat Aceh juga telah memperkuat dugaan, tidak ada provinsi di Indonesia, Yang memiliki pengalaman kekerasan seperti Yang pernah terjadi Aceh. Karena itu, Acehnologi Yang mempelajari politik Aceh akan memiliki khazanah kajian Yang amat luar biasa banyaknya. Mozaik peradaban Dan pemikiran Yang mumcul di Aceh tampaknya memiliki fondasi Yang amat kuat untuk memperkenalkan ilmu politik Aceh.