Sebagian orang mungkin merasa tidak nyaman berada di kedai hingga dua jam untuk menghabiskan secangkir kopi—sejak kopi panas dihidangkan masih mengepul uapnya hingga jadi dingin tanpa hidangan lain. Namun banyak kita temukan produktivitas mereka di kedai kopi, dan itu biasanya lebih dari satu jam. Sebagai kepatutan karena menyita kursi dan meja, mereka memesan tambahan beberapa potong kue.
Menanti cangkir kopi dihidangkan, kita dapat melihat orang masuk dan keluar kedai—dengan senyum dan rasa senang. Kopi, dalam hemat saya, memang mengeluarkan sihir aneh sejak kita mencium aromanya yang khas. Kehangatannya sanggup mengusir kegelisahan dan bila kita ngobrol dengan teman-teman, kopi menghidupkan suasana dan kehangatannya menyesap ke dada.
Aroma kopi memang sanggup memantik keluarnya ide-ide. Bukan hanya indera penciuman, dan rasa kemudian, yang terstimulasi, tapi juga kepekaan kreatif. Minum kopi menjadi rutinitas yang menyertai ikhtiarnya menangkap kegelisahan, kecemasan, ketidakpastian..