This post is from a low-reputation account and contains an unverified outbound link. Be cautious before clicking external links.

Musik Adalah Bahasa Universal

Words
529
Reading
3 min
Listen
Play
9y

Dollarphotoclub_74179490.jpg
Gambar ilustrasi Source

Sahabat Steemian music lovers, seringkali kita temui musik yang liriknya berbahasa asing, namun ketika menyukai musik tersebut, sudah pasti kita juga akan mendengarkannya berulang-ulang kali. Fenomena seperti itu bukanlah hal yang aneh, sebab musik adalah bahasa universal yang bisa dipahami dan dirasakan oleh orang banyak. Jadi, meskipun kita tak paham akan liriknya, tapi kita masih bisa menikmati musiknya secara keseluruhan.

Misalnya lagu "Gangnam Style" yang pernah booming di dunia. Orang yang menyukai lagu milik Park Jae Sang ini bukanlah orang Korea saja, melainkan seluruh masyarakat dunia.

Dengan gerakan dance yang unik dalam video klipnya, membuat lagu "Gangnam Style" diidolakan oleh banyak kalangan, bahkan kalangan anak-anak sekalipun. Jumlah penonton video klipnya di YouTube mencapai 4 milyar viewers dari seluruh belahan dunia. Dari jumlah penonton sebanyak itu, mungkin sebagian besar dari mereka tak paham bahasa Korea.

Contoh lainnya adalah lagu India "Tum Hi Ho" milik Arijit Singh. Lagu yang menjadi soundtrack film Bollywood Aashiqui 2 ini juga banyak digemari oleh masyarakat dunia. So, bukan orang India saja yang 'menggilai' lagu tersebut.

Bahkan kita sering menemukan video musik cover di YouTube yang meng-cover lagu "Tum Hi Ho", penyanyinya bukanlah orang India asli, dan bisa dipastikan juga penyanyi tersebut tak bisa berbahasa India.
Lagu "Tum Hi Ho" versi cover, oleh penyanyi Arab.

Sahabat steemian pasti pernah mendengar lagu "Sayang" milik penyanyi Via Vallen. Nah, lagu tersebut berbahasa Jawa bukan? Namun lagu "Sayang"-nya Via Vallen pernah 'meledak' di pasar musik nasional. Sampai anak-anak kecil pun bisa hafal lagu yang satu ini.

Lagu yang beraliran dangdut koplo ini banyak disukai oleh masyarakat, dan yang menyukainya bukan hanya orang Jawa atau orang yang mengerti bahasa Jawa saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia.

Baru-baru ini kita juga dikagetkan dengan viralnya lagu "Tak Tun Tuang" yang penyanyi Upiak Isil, asal Sumatra Barat. Lirik lagu tersebut menggunakan bahasa Minang.

Walaupun lirik lagunya dikemas dengan bahasa daerah (Minang), namun belakangan ini lagu "Tak Tun Tuang" sangatlah populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia secara umum, bahkan sampai ke negeri jiran. Upiak Isil, sang penyanyi juga pernah mendapatkan beberapa kali undangan ke negera tetangga seperti Malaysia dan Thailand, berkat lagu "Tak Tun Tuang"-nya. Terlepas dari aksi kocak dan nyeleneh sang penyanyinya di dalam video klip, yang membuat lagu "Tak Tun Tuang" banyak digemari, apakah orang Malaysia atau orang Thailand paham akan lirik lagu yang berbahasa Minang itu? Tentu tidak. Tapi mereka bisa memahami dan menikmatinya, sebab musik adalah bahasa universal.

Contoh lain yang paling dekat dengan kita adalah lagu "Kutidhieng"-nya Liza Aulia, meskipun lagu tersebut dikategorikan lagu Aceh, namun lirik di dalamnya tidak menggunakan bahasa Aceh seperti biasanya, melainkan bahasa Aceh kuno yang berupa mantra-mantra. Konon katanya mantra yang digunakan oleh nenek moyang kita di jaman dulu untuk menjinakkan harimau.

Meskipun sebagian besar masyarakat Aceh tak paham dengan makna lirik lagu "Kutidhieng", namun lagu tersebut pernah booming dan sangat populer di kalangan anak-anak muda, juga digandrungi oleh masyarakat Aceh pada umumnya.


Sahabat Steemian music lovers, itulah sebuah bukti bahwa musik merupakan bahasa universal yang bisa dipahami, dinikmati dan dirasakan oleh semua orang. Terkadang untuk menikmati sebuah musik, kita tak perlu harus memahami lirik-lirik yang dinyanyikan di dalamnya, kita akan tetap bisa merasakan 'isi' dari musik ketika didengarkan dengan hati dan perasaan.

Musik Adalah Bahasa Universal | Ecency