Hai Steemians..
Mahasiswa angkatan 80 dan 90an di Banda Aceh terutama yang berkampus di Darussalam tentu sangat akrab dengan Robur. Bus antik ini dipanggil Robur merujuk pada kendaraan bikinan Jerman Timur, tetapi saya kurang tahu apakah memang merek bus ini benar-benar Robur atau hanya karena modelnya yang sangat antik, mungkin karena kepalanya seperti truk buatan Jerman itu. Terlepas dari apapun mereknya, Robur menyimpan banyak sekali cerita. Tak ada yang tahu persis, berapa banyak sudah pejabat yang pernah menduduki bangkunya, berapa banyak engineer yang pernah berdesak-desakan di lorongnya. Dia pernah menjadi teman akrab sebagian besar mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Syiah Kuala dan IAIN Arraniry selama belasan tahun hingga akhirnya kuda-kuda besi buatan Jepang merajai jalanan di lingkungan kampus Darussalam.
Minggu lalu aku berkesempatan mengunjungi teman para calon sarjana di tahun 80 dan 90an itu, ada rasa sedih melihat ia kini teronggok kesepian di bawah pohon trembesi di depan Wisma Tamu Sektor Utara Darussalam.
Perlahan aku naik, sekedar untuk mengucapkan salam dan melepas kerinduan, bangkunya kini berantakan, padahal dulu ia pernah menjadi rebutan mahasiswa yang telah menunggu lama di depan Sinbun Sibreh ataupun di depan gedung FKIP lama, lantainya juga sudah karatan, setirnya kelihatan rapuh padahal dulu ia sangat gesit saat memutar setengah bundaran Simpang Mesra. Terbayang kondektur meneriakkan nama-nama halte atau tepatnya nama kampung atau lorong yang biasa menjadi tempat naik turun penumpang, teriakan itu disambut oleh dentingan uang logam oleh para penumpang, tanda bahwa mereka akan turun di pemberhentiaan. Hal seperti ini sekarang sudah digantikan oleh running text atau rekaman suara di bus-bus modern.
Rasa sedih bercampur haru mengingat ia telah begitu berjasa, mengantarkan kami setiap hari dengan ongkos Rp.50, sangat murah walaupun nilainya diukur dengan kurs saat itu.[]
Banda Aceh, 16 Desember 2017