Filsafat Kelapa BKSDA

Words
415
Reading
2 min
Listen
Play
8y

Ada yang mengatakan kalau pemerintah pada hakikatnya adalah rakyat. Berdasarkan kalimat diatas maka dengan berani kumaknai bahwa segala kepunyaan pemerintah adalah milik rakyat. Setidaknya rakyat punya secuil hak untuk menguasai apa saja yang dikelola oleh pemerintah. Termasuk di dalamnya pohon kelapa yang tumbuh di kantor Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Aceh.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, juga mungkin di daerah lain, jika sebatang pohon berbuah yang tumbuh di tanah milik Si Fulan, dan lalu cabangnya condong ke tanah milik Si Fulin, maka berlaku hukum adat bahwa segala buah yang tumbuh di cabang pohon yang condong tersebut boleh dimanfaatkan oleh Si Fulin. Ini bersebab sebagian besar daunnya sudah pasti dibersihkan oleh Si Fulin.

Nah, kebetulan sekali, sekira lima hari sebelum Idul Adha, sekumpulan orang-orang yang hidup bersebelahan pagar dengan kantor BKSDA Aceh memanjat pohon kelapa yang tumbuh di belakang kantor. Itu batang dan daun kelapa memang condong ke tempat mereka tinggal, bahkan tak jarang pula sebagian daun kelapa tua jatuh ke tanah rumah yang mereka tempati. Selanjutnya itu menjadi dasar kenapa siang jelang sore itu, lebih sepuluh kelapa muda dipaksa turun.

Satu dari sekumpulan orang-orang itu adalah aku. Selain aku juga ada temanku yang punya cerita masa kecil seputar kelapa. Hanya saja, sangat berbeda dengan kasus diatas. Ia yang ku panggil dengan nama Yandi, dengan teman-teman sekolahnya sedari usia muda sudah berani memanjat kelapa yang bukan miliknya, bahkan daunnya saja tidak condong ke halaman rumahnya.

Katanya dengan lucu dan bangga, mereka mengambil kelapa muda di kompleks tunanetra di tetangga kampungnya. Bahkan oleh seorang temannya yang lain, sebagian besar kelapa yang sudah bersantan pun diangkut untuk dijual ke pasar.

Di siang jelang sore itu, Yandi pun ikut menikmati kelapa yang kami petik di kantor BKSDA. Bahkan seamatanku, ia termasuk orang yang memakan lebih dari dua kelapa muda. Sedang yang lainnya hanya satu, paling banyak dua. Menurutku itu wajar saja, karena sejak kecil ia memang sudah akrab dengan kelapa muda, dan mungkin saja kebiasaan itu terbawa hingga dewasa.

Untuk meyakinkan aku bahwa Yandi memang sudah mahir akan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepala muda, dia pun menunjukkan skillnya saat mengupas kelapa muda. Melihat aksinya itu, aku pun tak meragukan lagi kalau ia memang pemuda berani dari Meutareum, Pidie, yang tega-teganya mengambil kelapa muda tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Tapi itu dulu, saat Yandi masih lugu dan ia belum tahu kalau kelapa muda yang ia ambil itu bukan milik pemerintah. Saranku untuknya, kalau milik pemerintah, ya ambil saja sepuasnya. Mengingat pemerintah juga sering mengambil milik rakyat tanpa memberitahukan lebih dulu.

pieasant@pieasant

Filsafat Kelapa BKSDA | Ecency