Pernikahan macam apa yang sedang aku jalani sekarang? Bersama di bawah satu atap lalu saling diam bagaikan orang asing. Hanya saling bicara jika memang dirasa perlu.
Awalnya aku terbiasa dengan rasa sepi, namun rasa sunyi di antara kita menjadi sebuah agenda harian yang harus aku nikmati selama beberapa tahun belakangan ini.
“Lea, tolong kopi untukku.” Suara pertama yang kau keluarkan setelah setengah jam kepulanganmu dari kantor.
Entah rasa lelah yang membungkammu, atau memang kau tidak punya niat menyapa aku sebagai istrimu, sekedar menanyakan kabarku misalnya.
Ah aku rasa itu tidak perlu kau lakukan. Toh kau masih memiliki fungsi mata yang sehat untuk melihatku berdiri di depanmu, di hadapanmu, dengan utuh.
Setelah kopi terhidang, aku duduk di sisimu. Hanya ingin mengamatimu. Mengamati suamiku yang lelah bekerja seharian.
Nyatanya, kau hanya diam dan matamu tertuju pada satu hal.
Ponsel!
Aku tahu tidak ada sesuatu yang harus aku khawatirkan dari ponselmu.
Namun apakah benar demikian?
Ketika ponsel telah menyedot seluruh perhatianmu
Ketika ponsel menjadi alasan kau tidak mendengar kalimatku dengan baik.
Ketika ponsel menjadi alasan kita bertengkar.
Ketika ponsel menjadi alasan aku mendiamkanmu berjam-jam.
Ketika ponsel menjadi alasan jarak yang tercipta di antara kita terentang jauh sekali. Kecuali saat kau membutuhkan aku di atas ranjang untuk memenuhi hasratmu dengan keegoan.
Hasrat yang aku pikir, bukan hanya menyatukan dua tubuh, melainkan dua pikiran. Nyatanya, aku tetap jauh dari pikiranmu.
Kenapa aku mengatakan hal demikian?
Karena kau hanya memikirkan memenuhi hasratmu sendiri, tapi tidak memikirkan aku.
Kau selesai memenuhi egomu, kau membilas diri, dan ponsel lagi yang kau sentuh.
Aku?
Nasibku sama seperti bangkai daging.
Yang kau nikmati sedikit, lalu kau biarkan aku tergolek di sana sampai aku sendiri yang harus membasuh diriku sendiri.
Rutinitas ini berlalu dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga tak terasa sudah tiga tahun kita menghabiskan waktu seperti ini.
Ajaibnya, tidak ada pertengkaran yang besar terjadi. Tidak ada cek cok mulut yang menyakiti hati. Yang ada hanyalah sebuah kekosongan di antara kita dan entah kenapa aku pun nyaman dengan perasaan itu.
Entah aku nyaman karena tidak perlu bertengkar denganmu, atau memang kau telah menciptakan rasa acuh dalam diriku.
Nyatanya, aku salah.
Aku tetap wanita lemah yang butuh pengakuan. Tetap wanita lemah yang ingin disayangi. Tetap wanita lemah yang ingin ditemani.
Dan saat ada lelaki lain yang memberikan itu semua, aku tahu bahwa pernikahan ini adalah salah sejak awal.
Bukan karena salah aku mencintaimu dan memilih menjadikanmu pendamping hidupku.
Melainkan salah bagaimana kita menjalani pernikahan ini.
Semua itu karena dia.
Apakah aku harus berterima kasih padanya
Atau
Justru aku harus mewaspadainya?
-tbc-