Abu kecil sangat jarang membuat PR (Pekerjaan Rumah). Pendidikan Abu tidak secantik pelangi dan tak seindah bulan purnama.
Abu Rimba tidak memilki waktu yang cukup untuk belajar. Beliau harus memilah waktu untuk merawat ternak. Sejak umur 8 tahun, Abu telah jatuh hati kepada kambing. Dengan memelihara kambing, beliau mampu membeli sepeda baru, membeli gimbot, membeli mobil-mobilan yang anak-anak seusianya harus menangis dan merengek terlebih dahulu kepada orang tua andai menginginkan mainan seperti Abu.
Wajar saja jika Abu menangis ketika melihat papan tulis. Abu tidak pandai menulis dengan rapi dan benar. Buku catatan sekolahnya selalu tampak baru. Hanya deretan angka nol yang terlihat dengan jelas. Tangannya enggan bersahabat dengan pensil.
Abu naik kelas secara cadangan. Wali kelasnya saat itu berjuang habis-habisan untuk menutupi kelemahan Abu Rimba. Beliau enggan mengerjakan latihan tugas dan mengumpulkan PR. Abu tidak memiliki nilai yang bagus di buku daftar nilai caturwulan. Walaupun demikian, beliau tetap duduk di bangku kelas 4 SD secara cadangan.
Dua hari menjelang ujian naik kelas 5, Abu Rimba menyerah. Beliau tidak sanggup mengikuti mata pelajaran yang semakin hari kian berat. Air matanya semakin berlinang ketika menatap papan tulis. Abu mengakhiri pendidikannya. Beliau tamat sebelum ujian.
Abu Thailand sangat senang melihat keadaan tersebut. Beliau lebih dulu tinggal kelas. Wali kelasnya saat itu tidak mampu membendung kelemahan Abu Thailand, sehingga Abu Thailand harus belajar satu tahun lagi di kelas 3 SD. Akhirnya beliau tamat secara tidak resmi.
Sebenarnya, antara Abu Rimba dan Abu Thailand, mereka berdua sebaya dan berteman dekat. Kini, keduanya putus sekolah oleh kelemahan masing-masing. Jika Abu Rimba menangis ketika melihat papan tulis, ada Abu Thailand yang sangat jarang masuk kelas.
"Keupeu sikula, pegawai kana gop, camat pih kana gop."
"Nyan keuh!" Jawab Abu Rimba sambil mengasah parang.