Kealamian Hutan Belantara

Words
271
Reading
2 min
Listen
Play
9y


MALM itu, kami memutuskan untuk melakukan pendakian. Target gunung yang akan kami taklukkan kali ini adalah lembah Gunung Salak. Salah-satu gunung yang sudah mulai terancam keperawanan dari ancaman pemerkosaan “Pelanggar Syariat Alam”.

Pendakian kali ini saya lakukan bersama dua teman dari Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Malikussaleh. Kelihaian mereka dalam menaklukkan tingginya gunung dan lebatnya hutan belantara tidak diragukan lagi.



Aslinya Muhammad Al-Khalidi, kelihaiannya dalam melihat arah mata angin, “kompas” menjadi julukan baginya. Satu lagi, “Glebek”. Mungkin, karena fisiknya yang sangat kuat, sehingga Glebek itu menjadi julukan yang tepat baginya.

Bukan berarti dia tidak paham melihat arah mata angin, sehingga berpotensi tersesat di hutan belantara. Sebenarnya penggunaan alat Global Positioning System (GPS) dan pembuatan peta, Glebek ahlinya.



Kami memulai pendakian dari Gampong Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.

Kompas, di samping ahli dalam pendakian, Dia juga sangat lihai dalam memainkan peranan centong dan kuali. Selama pendakian, kami selalu mencicipi masakannya.

Disitu saya melihat keuletan dan kepiawaian mahasiswa jebolan organisasi pencinta alam dirian Sie Ho Gie itu. Mereka betul-betul siap dalam menaklukkan ketinggian gunung yang menjulat tinggi dan menelusuri lebatan hutan belantara dengan persiapan yang sangat matang.



Saya, lewat pendakian itulah mengenal hutan secara langsung di alam terbuka. Hawa alami yang jauh dari kontaminasi menjadi ciri khas keindahan dan kelembutan alam ini. Di sana tidak ditemukan gas amoniak yang penuh dengan keracunan. Begitu juga dengan asap-asap kimia yang bertaburan.

Semuanya penuh dengan nuansa alami. Air bisa langsung didapatkan dari sumber matanya. Udara yang penuh dengan kesegaran menjadi makanan rongga pernapasan setiap saat. Jangan pernah bermimpi nuansa itu bisa kalian dapatkan di tengah hiruk pikuknya kota.


Salam Adil Lestari . . .

Kealamian Hutan Belantara | Ecency