Kita hanya pintar berkoar tentang perbedaan itu rahmat, namun selalu saja mau sama. Malah, kita jawara memuja orang di hadapannya, tetapi penuh cacian kala berlalu. Kita sangat pintar menjadi bunglon yang menipu orang lain dengan penampilan baru. Kita membungkus diri dengan selimut ketulusan namun bertubuh dengan kedengkian.
Pernahkah kita mendengar ungkapan, "kau lah bulan, kau lah bintang. Sungguh, aku betul-betul mencintaimu dengan ketulusan hati" ini merupakan kalimat rayuan yang paling purba, jika saat ini digunakan, mungkin sang gadis akan menertawai kita. Namun perlu diketahui, sepanjang jaman, berkata kalimat mantra itulah yang telah meluluh lantakkan jutaan hati para gadis. Kau tau kenapa? Karena kala itu begitu sakralnya kata "tulus".
Tulus itu sekarang dapat dimatematikakan. Artinya, ketulusan itu bisa diciptakan atau dilakukan sesuai kebutuhan. Bila menguntungkan, tulus itu dapat dilakukan walau hanya pura-pura. Makanya, tidak mengherankan jika tulus itu memiliki beragam angka untuk disandarkan pada kepentingan orang yg mengaku tulus. Toh, tulus itu seperti pula ikhlas yang di kekinian terbilang sulit terbaca. Dan sepertinya, kesakralan kata "tulus" telah kehilangan marwahnya.
Ketika seseorang mengeluh, "Aku siang malam berusaha menorehkan karya terbaik, dan juga meng-upvote, mengomentari, dan bahkan me-resteem postingan kalian semua, tapi kalian tak pernah mendatangi postinganku. Tolong donk hargai ketulusanku." Nah, apa ini masih bisa disebut "tulus"? Artinya, jika aku membantu kamu, kamu juga harus membantuku, jika aku menghargai kamu, kamu juga wajib menghargai aku, jika aku mengkurasi konten milikmu, maka kamu mestilah melakukan hal yang sama..bla..bla..bla..dan seterusnya. Ini benar-benar penistaan terhadap kata "tulus" dan menodainya dengan bersembunyi disebalik dialektika.
Dengan memberi kemudian mengharap balas menerima, memang lumrah adanya, dipahami dan dapat dimaklumi, namun demikian ada syaratnya, buang dulu kata "tulus" agar kesakralannya tetap terjaga dan tidak ternodai oleh sebuah tuntutan. "Tulus" dan "tuntut" adalah dua kata yang bertolak belakang.
Lain halnya dengan kasus seseorang yang kerap ingin dihargai sebagai manusia, tetapi tak mau menghargai orang lain. Berharap mendapat perlakuan ramah dan terhormat, namun acapkali memperlakukan orang lain dengan angkuh dan sepele.
"Lantas, bagaimana bisa kamu mengukur kedalam hati seorang, sementara dalamnya hati hanya diri dan pecipta yang tahu? Walau aku begini, meski aku begitu, orang lain kan gak tahu ketulusan hatiku!!!" Demikian kalimat yang sering terlontar di mulut seseorang untuk menjustifikasi prilaku salah. Ia tak sadar kalau ucapan, pola tingkah, dan sepak terjangnya dalam keseharian merupakan pengejewatahan dari isi hati.
Created by: @munawar87/Munawar Iskandar
Sungguh indah, kita dipertemukan dan dipersatukan dalam komunitas yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Salam Kompak Komunitas Steemit Indonesia
Semoga Tali Silaturrahmi Ini Terajut Menjadi Sebuah Ikatan Persaudaraan Yang Saling Memberdayakan