Kita ingin dianggap baik, tapi kita enggan berbuat baik. Kita marah ketika dikatakai jahat, tapi tak segan-segan berbuat jahat. Kita selalu berkoar bahwa kejahatan muncul tidak hanya karena adanya niat pelaku, tapi karena adanya kesempatan. Sebaliknya, kesempatan berbuat baik selalu terbentang di depan mata, tetapi kenapa kita tidak berniat untuk berbuat baik?
illustrasi: Pixabay
Orang seperti ini biasanya cenderung menghindari tanggung jawab sosial, misalnya, menolak sebuah jabatan sosial guna menghindar mengurusi kepentingan orang banyak, tidak mau terlibat dalam politik, dan tak mau melakukan spekulasi untuk perubahan sosial.
Peranan sosial biasanya cenderung mendapat kritikan, cemoohan, celaan, dan orang yang takut atau alergi akan ketiga hal tersebut akan selalu menjaga titik aman dengan menolak segala jabatan sosial agar tetap selalu dianggap baik.
Orang seperti ini biasanya tidak terlalu ambil pusing pada penilaian orang lain. Ia akan terus berbuat untuk kemaslahatan orang banyak, meskipun kritik datang bertubi-tubi, namun tidak pernah membuat ia berputus asa untuk terus berbuat baik.
Kritikan, celaan, dan cemooh dijadikannya sebagai bahan masukan yang positif dan terus berusaha berbenah diri dengan konsep-konsep baru yang tepat untuk semua perbuatan baiknya agar lebih bisa diterima oleh orang lain.
Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang membuat orang lain mengingat Allah saat melihat mereka. Dan seburuk-buruk hamba Allah adalah mereka yang berjalan ke sana-kemari menyebarkan fitnah yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang berusaha mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang tidak bersalah.”(HR Ahmad dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)
KH Muhammad Idris Jauhari berpendapat bahwa; "Barometer hamba terbaik di disisi Allah tidak lagi didasarkan pada kesalehan individu semata. Tapi, bagaimana kesalehan individu bertransformasi menjadi sebuah energi spiritual-magnetik yang secara spontan maupun perlahan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk senantiasa mengingat Allah."
Baik secara ritual saja, ternyata tidaklah cukup, melainkan juga harus dibarengi dengan kebaikan secara sosial.
Semoga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang terbaik dengan terus menebar kebaikan bagi sesama.
Sungguh indah, ketika kita dipertemukan dan dipersatukan dalam sebuah komunitas yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Peusaban lampoe, lam baten sama rata, ta gayoeh beusama..hayyaoehhh.
Created By: @munawar87/Munawar Iskandar
Salam Kompak Komunitas Steemit Indonesia
Semoga Tali Silaturrahmi Ini Terajut Menjadi Sebuah Ikatan Persaudaraan Yang Saling Memberdayakan