Orang Keuneukai bilang, ini makamnya aulia 44. Saya tanya, aulia 44 atau 44 aulia? Sebab masing-masing pengistilahan itu akan memiliki makna yang berbeda, jika disebut Aulia 44 bisa jadi ini makam aulia yang ke 44, bukan 44 orang sekaligus, berarti makam ini merupakan satu dari 44 aulia yang datang ke sini atau pernah melewati gampong ini atau bahkan pernah bermukim di sini.
Sementara kalau disebut 44 Aulia, berarti ada 44 orang aulia yang dimakamkan disini. Bukan satu, tetapi 44 orang sekaligus. Sementara makam yang terlihat seperti makam orang yang dimuliakan, hanya satu. Yang lain sepertinya kuburan biasa. Tidak ada yang khas. Pun jika dihitung, tak sampai 44 makam. Jadi mana yang benar? Abua itu terlihat bingung, nggak paham katanya.
Makam ini nampaknya baru saja dipugar, bahkan barangkali bangunannya pun masih baru. Biasanya, makam-makam ulama besar, terutama sekali dari era kesultanan Aceh, memiliki bentuk yang khas, seperti ukiran, kaligrafi, penanggalan dan identitas. Makam ini sepertinya tidak punya semua karakteristik itu. Barangkali, ini memang benar makam aulia; ulama atau sufi yang menjauh dari keramaian terutama dari penguasa. Itulah mengapa mungkin nisannya tidak berukir, atau bisa jadi ia berpesan agar makamnya tidak dibuatkan bangunan seperti kebanyakan. Sebab ada sebagian ulama yang berpegang dan beramal pada pendapat tidak bolehnya membangun bangunan apapun pada kuburan, sebuah kuburan ya cukup dengan undakan tanah dan sepasang batu. Tidak lebih.
Sayangnya, tidak ada informasi tertulis yang bisa didapatkan di sekitar makam. Jika benar ini makam ulama besar. Pemkab Sabang harusnya menyediakan informasi dan mengedukasi masyarakat Keunekai tentang sejarah ulama ini. Ini bisa jadi salah satu wisata alternatif, katakanlah wisata religi. Dan akan turut menambah kekayaan sejarah dan budaya, jadi Sabang tidak hanya dikenal dengan wisatanya, akan tetapi juga kekuatan budayanya.