Duniaku penuh tantangan, hidup berbaur di antara ratusan corak warna kehidupan. Hidupku tidak menyenangkan, cacian dan hinaan selalu aku dapatkan, kadang ada pula yang takut dan jijik padaku. Padahal aku merasa aku makhluk paling lucu.
Aku hidup di pohon, kadang ada pada rumput, yang terpenting aku hidup di atas daun-daun hijau, di antara ranting-ranting pohon. Dan kini aku menetap di pohon alpukat. Aku tidak tahu ayahku, yang aku tahu, mataku terbuka sat melihat dunia, aku sudah berbaur bersama makhluk yang sama sepertiku dan ada ibu yang membimbingku. Ibu? Aku rasa bukan, namun ia yang selalu mengayomiku.
Kadang aku sedih mendengar kata-kata manusia yang bilang aku makhluk jelek, makhluk menjijikkan dan parahnya ada juga yang langsung lari ketika ia melihat keberadaanku. Ya walaupun benar, aku jelek, tubuhku kecil sebesar jari kelingking orang dewasa, warna tubuhku berwarna warni dan mungkin mereka geli. Tapi manusia kadang lupa, jika aku juga makhluk ciptaanNya.
"Ayah, lihat ulat itu menjijikkan," jerit anak gadis itu di bawah pohon tempat aku tinggal.
Ingin aku berteriak padanya, ingin aku menjerit agar dia mendengar bahwa aku tidak menjijikkan, aku rasa usahaku berteriak tak mungkin terdengar. Aku juga ingat nasehat ibuku jika wajar kalau ada manusia yang tak menyukai kita.
"Nak, suatu saat akan ada orang yang tidak menyukaimu, yang akan mencaci dan memakimu. Tapi kamu harus ingat dan janji pada ibu, kamu jangan pernah punya dendam," kata ibu.
Aku kurang mengerti kenapa aku tidak boleh dendam.
"Kenapa Bu? Bukankah manusia sendiri yang cari gara-gara, mereka bilang kita ini ulat jelek, menjijikkan, aku sakit hati Bu," kataku jengkel.
"Ibu tahu Nak, tapi tidak semua kejahatan harus dibalas kejahatan, dendamlah dalam kebaikan," ucap ibu.
"Dendam dalam kebaikan itu apa, Bu?" tanyaku lagi.
"Dendam dalam kebaikan, jika mereka menghina kita, cukup dilihat saja, jangan hiraukan mereka, tapi berjanjilah pada diri sendiri, jika kita mampu berusaha jadi lebih baik. Jalani hidup penuh keikhlasan, kelak kamu sukses, mereka yang dulu menghinamu akan tahu siapa kamu sebenarnya," jawab ibu.
Sejak itu aku sadar, aku berusaha ikhlas mendengar makian mereka, walaupun kadang ingin sekali menjatuhkan tubuhku tepat di mukanya, agar manusia tahu aku bisa berbuat apa saja. Tapi aku tetap berusaha patuh pada nasehat ibu.
"Ibu, di situ banyak ulat, aku takut!!" teriakan anak kecil mengusik tidur siangku.
Kulirik ke bawah, seorang gadis kecil menjerit ketakutan melihat gerombolan kami di atas pohon. Aku meliriknya penuh kemarahan.
"Memangnya aku hantu yang layak ditakuti?" batinku memprotes.
Tiada hari tanpa ocehan manusia. Makian demi makian kucecap habis, menumbuhkan semangatku. Akan kubuktikan suatu saat aku bisa berubah jadi lebih baik.
Sebentar lagi musim buah alpukat, aku mulai mengumpulkan bahan untuk pembuatan gubukku nanti. Gubuk tempat aku mengasingkan diri, jauh dari keramaian dan jauh dari hiruk pikuknya dunia. Bukan melarikan diri, tapi ini adalah cara kami bertahan hidup. Agar kelak manusia tahu siapa kami.
Gubukku telah jadi, sebelum kututup rapat celah terakhir yang ada, aku lirik duniaku, aku janji suatu saat akan kembali dengan lebih baik lagi.
Entah berapa lama aku mengasingkan diri di dalam gubukku, hingga suatu hari tubuhku terasa aneh, bergerak ke kanan dan kiri, seperti ada yang melekat pada tubuhku. Pelan tapi pasti kubuka mataku, aku terkejut dan bahagia. Aku berubah.
Ya, mungkin ini yang dinamakan metamorfosis, aku kini bukan seekor ulat yang menjijikkan, aku bukan ulat yang ditakutkan, aku bisa terbang. Sayapku indah, dengan paduan warna hitam dan garis merah di paruhku, ada pula bintik-bintik kuning dan putih di ujung kedua sayapku, ya aku jadi kupu-kupu.
Aku mulai terbang mengelilingi pohon alpukat itu, yang sekarang mulai berbuah. Aku pergi terbang ke sana ke mari. Aku melihat anak gadis sedang melintas di bawahku. Aku beranikan diri terbang tepat di bahu nya.
"Ayah, lihat, kupu-kupu ini cantik sekali, kita bawa pulang ya, Yah?" ucap gadis kecil itu mengejutkanku.
Aku terbang lebih tinggi sambil tersenyum, walaupun aku sadar, mereka tak mungkin tahu senyumku. Bukan aku sombong tidak mau ditangkap dan dibawa pulang anak gadis itu. Tapi aku harus lanjutkan kehidupanku. Aku masih ingin menikmati dunia baruku. Setidaknya sebelum aku nanti mati, aku ingin berbuat kebaikan.
Hari-hariku menyenangkan, kadang aku membantu proses perkawinan antar bunga. Kadang pula aku hanya berkejaran bersama kawanku. Aku hidup di antara puluhan bunga. Harum sepanjang hari dan yang pasti bahagia. Ternyata benar kata ibu, balas dendam yang terbaik adalah menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya, agar mereka yang menghina kita tahu siapa kita sebenarnya.
Ibuku entah sekarang di mana. Dan ibu berubah seperti apa, atau mungkin ibu berada di antara puluhan kupu-kupu di sekitarku? Entahlah.
Yang aku tahu, jika keberhasilan itu membutuhkan proses dan kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.