Kisah Daod Cumbok dan Tiga Pasukannya

isnorman(60)
Published in
#story
Words
636
Reading
3 min
7y
Listen to this post
~4 min

Daod Cumbok memimpin tiga kemlompok pasukan Markas Uleebalang. Mereka mencoba menyiapkan pendaratan Sekutu/NICA di Sigli, tapi gagal karena dihalau kelompok pasukan Republiken.

AK Jakobi dalm buku Aceh Daerah Modal, Long March ke Medan Area, terbitan Yayasan Seulawah RI-001, tahun 1992 pada halaman 21 menjelaskan, pada tanggal 22 Oktober 1945 diadakan pertemuan antara kaum Uleebaang di Buereunuen dia rumah Teuku Keumangan Umar.

Dalam pertemuan itu disepakati pendirian “Markas Uleebalang” dan pembentukan pasukan bersenjata yang dinamai “Barisan Penjaga Keamanan”. Markas besar pasukan ini ditetapkan di Lemeulo (Lamlo) dengan Teuku Muhammad Daod Cumbok sebagai komandannya.

daud cumbok_atjehgallery.jpg
Daod Cumbok Sumber

Pasukan Daod Cumbok ini dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama pasukan cap bintang, ditugaskan untuk mematahkan perlawanan rakyat yang tidak mendukung gerakan mereka. Kelompok kedua pasukan cap sauh bertugas mengumpulkan logistik dan merampas harta rakyat yang bersebrangan dengan mereka. Kelompok ketiga pasukan cap tumbak, bertugas melakukan penculikan terhadap para ulama dan cendikiawan yang berseberangan dengan mereka.

Malah menurut AK Jakobi, kelompok pasukan cap tumbak tersebut banyak didatangkan dari Medan, Sumatera Utara. Umumnya mereka merupakan bekas tentara tentara Kolonial Belanda, Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang ditambah dengan pengikut Uleebalang, mereka dipersenjatai dengan senjata api jenis karaben, piston dan senjata tajam seperti pedang, kelewang, tombak, lembing dan rencong.

Sasaran utama pasukan tersebut adalah melakukan terror dan melumpuhkan para pemuda yang tergabung dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang kala itu bertugas menjaga kantor pos dan kantor telekomunikasi (telepon) di Kota Lameulo.

Pasukan ini juga melarang pemuda memakai lencana merah putih. Bendera merah putih yang dipasang penduduk diturunkan, dirobek dan dibakar. Semua pamflet dan selebaran yang dikeluarkan oleh Residen Aceh Teuku Nyak Arief dan Pimpinan Angakatan Pemuda Indonesia (API) Syamaun Gaharu dimusnahkan.

Daod Cumbok bersama pasukannya juga melakukan intimidasi, menahan dan memenjarakan para pemuda yang tidak mau bergabung dengan mereka. Tindakan itu dimualai sejak 3 November 1945 dan dilanjutkan pada 8 November 1945. Mereka berhasil merampas kantor Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Kota Lameuloe. Sejak saat itu Kota Lameuloe sepenuhnya dalam penguasaan pasukan Daod Cumbok.

Dari Lameuloe pasukan Daod Cumbok kemudian berusaha memperluas gerakannya ke beberapa kota, mulai dari Sigli di Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur. Masyarakat diperalat dan dimobilisasi untuk menduduki kota-kota tersebut. Mereka juga mempersiapkan lokasi pendaratan kembali Belanda bersama pasukan Sekutu di pantai Sigli melalui apa yang disebut sebagai program penyambutan Wakil Ratu Belanda di Aceh (Commite van Onvangst). Tapi pasukan Daod Cumbok ini bentrok dengan kelompok republiken, pendukung kemerdekaan Republik Indonesia di kota Sigli.

teuku nyak arief.jpg
Residen Aceh Teuku Nyak Arief Sumber

Masih menurut AK Jakobi, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, sebuah tim militer diterjunkan oleh Sekutu di sekitar pegunungan Seulawah pada akhir Juni 1945. Tim ini melakukan survey mempersipkan lokasi pendaratan pasukan paying, serta mendukung pendaratan pasukan sekutu di pantai utara Seulawah yang landai.

Tim kecil ini dipimpin oleh BW Lefrand, mantan Kepala Pabean Belanda di Sigli. Ia kenal betul lokasi itu dan jalan tikus di sana. Tapi tim itu kemudian diinstruksikan oleh markasnya untuk memutar haluan, yaitu menggabungkan diri segera dengan pasukan Sekutu di Medan. Kemudian dari sana diatur kembali rencana untuk mengkonsolidasi pasukan Inggris dan pasukan Nederlandsch Indie Civiele Administratie atau Netherlands-Indie Civiele Administration (NICA) dalam rangka menaklukkan Residen Aceh dan Sumatera Timur.

Mengatahui itu pasukan Daod Cumbok sangat berhasrat merebut dan menduduki Kota Sigli, ibu kota kabupaten Pidie untuk menyambut masuknya tentara Sekutu/NICA, namun tidak berhasil. Gerakan Daod Cumbok di malam buta pada 22 Desember 1945 bisa dihalau di luar kota Sigli, karena pasukan pro republik.

Para pemuda PRI dan pemuda PUSA yang dipimpin Hasan Ali, Hasballah Haji dan Hasan Saleh bersama pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Laskar Mujahidin Resimen II Divisi Teungku Chik Di Tiro yang dipimpin Said Usman dan Teungku Amin Syamy, serta Resimen II Divisi Rencong lebih dulu berhasil menggerakkan kekuatan rakyat untuk menguasai Kota Sigli. Pengepungan Kota Sigli itu juga bisa dibaca dengan detil dalam buku Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak.

Kisah Daod Cumbok dan Tiga Pasukannya | Ecency