Aku berdiri menatap langit kala sore hari menyapa
Merah merona lalu perlahan pudar menghitam
Potret indah negeri berubah jadi haru air mata
Di sudut-sudut negeri terdengar tangisan para kaum yang terpinggirkan
Mereka terdampar merayap di lembah kemiskinan
Mereka terkurung ruang ketidakadilan
Mereka terbelit berbagai kesulitan
Mereka hanya bisa berharap suatu saat nanti akan ada uluran tangan sang dermawan
Kemana para elit-elit negeri saat air mata terus menghantui?
Kalian hanya sibuk berkoalisi, konglomerasi
Kalian jadikan mereka budak kekuasaan, seakan ingin membuat mereka mati berdiri
Lihatlah!
Wahai kalian yang sudi saksika
Raut-raut wajah cinta yang pucat termakan letih
Sorot mata nanap menerawang ruang kekosongan
Meratapi air mata yang mungkin sudah tak berarti lagi
Melihat kepedihan negeri ada di antero negeri
Tapi, mereka tetap bertahan karena cinta
Cinta untuk Indonesia
Meski tetap disertai air mata