Look for Equations, Not Differences (Carilah Persamaan, Bukan Perbedaan)

Words
2059
Reading
10 min
Listen
Play
9y

Preliminary.

The way of life in a plural society, is different from the way of life in a homogeneous society. In a plural society we should be realized to learn how to behave and behave that are acceptable to different groups of people with us, both in terms of culture and some other aspects. This special article will discuss the importance of learning and have knowledge about the outline of other religions that in fact is not a religion that we profess. Having basic knowledge of other people's religion will give an understanding of how rich the lifestyle in the plural society so as to create harmonization in the difference as well as music concerts in which there is a variety of musical instruments but played harmoniously so pleasant to hear.

Bhante Uttamo

Look for similarities rather than differences (a personal experience)

Often we see at least hearing of individuals or groups attacking each other and arguing about differences in the Divinity concept. Every religion has its own Divine concept and is different from one another, it cannot be equaled. For example, in the concept of Christianity, the concept of Divinity based on the Trinity (God the Father, Son and Holy Spirit), and therea is the concept of the creation of the universe in Christianity, but in Buddhism that has the unique concept that no one be created and created, everything already exists as it is.

If we discuss Divinity from a different point of view there will be no end and will be never ending debate session.

In my childhood I was taught by an Ustadz from NU who is close to my family, even my mother give her permission to let me study lesson about Koran. As a result, I learned to study Koran with friends that boarding school nurtured by him. But this did not last long occur, I moved in with my aunt's family who almost all members of the family has Christians faith. As a result, I ended up taking Christian lessons and going to church every week. Stepping on the junior high school I entered a Catholic school, where I got a struggle and finally I decided not to follow any religion at that time.


Bhante Sri Pannavaro

This unique spiritual journey in my teenage years, made me learn a lot about the different streams of trust, mysticism, and religion. From Taoism, Zen Buddhism, Kejawen (old Javanese tradition faith) and Catholicism. In high school I decided to follow Catholicism and be baptized officially. This is where the spiritual journey began to focus, I stopped learning the flow of beliefs and other religions, and focused on the universal teaching of Catholicism.

At the time of I studied in university, the desire to study other religions came to be remembered, and finally, I reopened some books about Buddhism, this is where my mind finally opened. The mind becomes open because of the teachings of the Second Vatican Council which teaches that there is still a way of salvation outside the institution of Catholicism, that makes me feel free to study other religions, especially the teachings of Sidharta Gautama Buddha.

Later the reunion with my Buddhist high school buddies made me even more determined to study Buddhism even more so when I read the Buddhist quotations of Sidharta Gautama which essentially teaches the Dhamma for all, and the Buddha never forces anyone to become his followers. If the teachings of the Dhamma fit for you, Buddha Sidharta Gautama invites to practice it, if not suitable you can throw or not follow his teaching.

Here I find the equation and I can analogize the teachings of Love as the core of the doctrine of Christ and the doctrine of Metta from Buddha Sidharta Gautama has in common. Finding this equation gives me a new perspective, that we can study other religious teachings without the need to be religious.

For more on these equations, it can be seen from the two quotations of Christianity and Buddhism, as follows:

1 Corinthians 13:4-8English Standard Version (ESV)
Love is patient and kind; love does not envy or boast; it is not arrogant or rude. It does not insist on its own way; it is not irritable or resentful;[a] it does not rejoice at wrongdoing, but rejoices with the truth. Love bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things. Love never ends. As for prophecies, they will pass away; as for tongues, they will cease; as for knowledge, it will pass away.

Karaniya Metta Sutta
This is what should be done by one who is skilled in achieving his own good of peace and tranquility.

He should be efficient and competent (sakko),

Honest and upright (udu cha su ju cha)

Pleasant and polite in speech (Suvaco)

(Suvaco does not mean obedient)

Gentle in demeanor (gentle composure -mudu)

He should be modest and not arrogant (anatimani)

He should be content and satisfied (santussako)

And be easily supportable (subarro).

He should not be over involved (appa kikko) and

Simple and light in his life style (sallahukavutti)

He should keep his sense faculties calmed and tranquilled (santindrio)

He should be wise (nipako) but not too bold and daring (appagabbo not arrogant)

He should not be attached to households (kulesu ananugiddo)

He should never resort to doing anything so mean (na cha kudham samachare) whereby the rest of the wise world would reproach him (yene vinnu pare upavedeyyuum)

May all beings enjoy happiness and comfort (sabbe satta bHavantu skitatta)

May they feel safe and secure (sukino va khemino hontu)
Karaniya Metta Sutta in Pali Version


Gus Mus

Call to do good

Once there is my friend who is senior age, a dropout boarding school (but not finished according to his confession), he had said that ordering or ordering people to pray is wrong, but if you invite people to pray it is true. According to him, if we invite other people to pray, we also indirectly invite ourselves to pray, as opposed to sending a prayer, which seems to command others to pray but not praying themselves.

So let us do good to put aside the differences that exist, and find a sense of humanity in each of us, because after all we have one equation we can not be denied that we are fellow human beings. (Hpx)



Bahasa Indonesia

Pendahuluan.

Cara hidup dalam masyarakat yang majemuk, berbeda dengan cara hidup dalam masyarakat yang homogen. Dalam masyarakat majemuk kita seharusnya sadar untuk mempelajari cara bersikap dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok masyarakat yang berbeda dengan kita , baik dari segi budaya dan beberapa aspek lainnya. Artikel ini khusus akan membahas pentingnya pentingnya mempelajari dan memiliki pengetahuan garis besar mengenai agama lain yang notabene bukan agama yang kita anut. Memiliki pengetahuan dasar akan agama orang lain akan memberikan pemahaman betapa kayanya corak hidup dalam masyarakat majemuk sehingga menciptakan harmonisasi dalam perbedaan seperti halnya musik konser yang didalamnya terdapat ragam alat musik tetapi dimainkan secara harmonis sehingga enak didengar.

Bhante Uttamo

Carilah persamaan bukan perbedaan (sebuah pengalaman pribadi)

Seringkali kita melihat setidaknya mendengar ada individu atau kelompok yang saling menyerang dan berdebat mengenai perbedaan dalam konsep Ketuhanan. Setiap agama memiliki konsep Ketuhanan sendiri dan berbeda satu sama lainnya, ini tidak akan bisa dipersamakan. Seperti contohnya dalam konsep agama Nasrani, konsep Ketuhanan berdasarkan Trinitas (Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus), serta adanya konsep penciptaan alama semesta, akan tetapi dalam agama Buddha yang memiliki konsep yang sangat unik yaitu tidak ada yang diciptakan dan menciptakan, segalanya sudah ada seperti apa adanya.

Jika kita membahas dua sudut pandang Ketuhanan dari sudut pandang yang berbeda tidak akan ada habisnya dan yang ada nantinya adalah debat kusir yang semakin diperdebatkan semakin tidak akan berhenti berdebat.

Pada masa kanak-kanak saya pernah diajar mengaji oleh seorang Ustadz dari NU yang dekat dengan keluarga saya, malah ibu saya mempersilahkan Ustadz tersebut memberikan pelajaran mengaji. Walhasil saya belajar mengaji dengan teman-teman dengan pondok pesantren yang diasuh oleh Ustadz dari NU tersebut. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama, saya pindah ikut keluarga bibi saya yang kebetulan didominasi oleh pemeluk Nasrani. Walhasil lagi, saya akhirnya ikut pelajaran agama Kristen dan ke gereja setiap minggunya. Menginjak pada Sekolah Menengah Pertama saya masuk dalam sekolah Katolik, disana saya mendapatkan pergumulan dan akhirnya saya memutuskan tidak menganut agama apapun pada saat itu.

Bhante Sri Pannavaro

Perjalanan spiritual yang unik dimasa remaja ini, membuat saya banyak mempelajari aliran kepercayaaan, kebatinan dan agama yang berbeda-beda. Dari Taoisme, Budhisme Zen, aliran Kejawen dan Katolik. Dimasa Sekolah Menengah Atas saya memutuskan mengikuti ajaran Katolik dan dibaptis secara resmi. Disinilah perjalanan spiritual mulai terarah, saya sempat berhenti mempelajari aliran kepercayaan dan agama lain, dan fokus pada ajaran universal Katolik.

Pada masa dipendidikan Universitas, keinginan untuk mempelajari agama lain terbersit, dan akhirnya saya membuka kembali beberapa buku mengenai ajaran Buddha, disinilah akhirnya pikiran saya mulai terbuka. Pikiran menjadi terbuka karena adanya ajaran dari Konsili Vatikan II yang mengajarkan bahwa masih ada jalan keselamatan di luar institusi agama Katolik, disinilah saya merasa bebas mempelajari agama lain khususnya ajaran Buddha Sidharta Gautama.


Paus Benekdiktus XVI dan Paus Fransiskus

Selanjutnya pertemuan kembali dengan teman SMA yang menganut agama Buddha membuat saya semakin mantap untuk mempelajari agama Buddha terlebih lagi ketika saya membaca kutipan kata-kata Buddha Sidharta Gautama yang pada intinya ajaran Dhamma untuk semua orang, dan Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk menjadi pengikutnya. Bila ajaran Dhamma cocok, Buddha Sidharta Gautama mempersilakan untuk mengamalkan, kalau tidak cocok dipersilakan untuk tidak menurutinya.

Disinilah saya menemukan persamaan dan bisa saya analogikan ajaran Kasih sebagai inti ajaran Kristus dan ajaran metta dari Buddha Sidharta Gautama memiliki kesamaan. Dengan menemukan persamaan ini membuat saya memiliki sudut pandang baru, bahwa kita bisa mempelajari ajaran agama lain tanpa perlu menjadi penganut agama tersebut.

Untuk lebih lanjut mengenai persamaan tersebut kiranya dapat dilihat dari dua kutipan ajaran Nasrani dan Buddha, sebagai berikut :

Korintus 13: 4-8
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Karaniya Metta Sutta
Inilah yang harus dikerjakan
oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan.
Untuk mencapai ketenangan,
Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur,
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.
Merasa puas, mudah disokong/dilayani
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang inderanya, berhati-hati
Tahu malu, tak melekat pada keluarga.
Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil
yang dapat dicela oleh Para Bijaksana
Hendaklah ia berpikir :
Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram,
Semoga semua makhluk berbahagia.
Makhluk hidup apa pun juga
Yang lemah dan kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau besar
Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk.
Yang tampak atau tidak tampak
Yang jauh atau pun dekat
Yang terlahir atau yang akan lahir
Semoga semua makhluk berbahagia.
Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja.
Jangan karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain celaka.
Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya
Melindungi anaknya yang tunggal,
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas.
Kasih sayangnya ke segenap alam semesta
Dipancarkannya pikirannya itu tanpa batas
Ke atas, ke bawah dan kesekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.
Selagi berdiri, berjalan atau duduk
Atau berbaring, selagi tiada lelap
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dikatakan : Berdiam dalam Brahma ( Kasih Sayang )
Tidak berpegang pada pandangan salah (tentang atta/aku)
Dengan sila dan penglihatan yang sempurna
Hingga bersih dari nafsu indera
Ia akan bebas dari lingkaran penderitaan.

Karaniya Metta Sutta Versi Bahasa Pali


Gus Mus

Ajakan berbuat baik

Pernah ada teman saya yang sudah senior umurnya, merupakan jebolan pondok pesantren (tapi nggak tamat menurut pengakuannya), dia sempat berkata kalau menyuruh atau memerintahkan orang untuk sholat itu salah, tapi kalau mengajak orang sholat itu baru benar. Menurut dia kalau mengajak orang lain sholat berarti kita secara tidak langsung juga ikut mengajak diri kita sendiri untuk melakukan sholat juga, berbeda dengan menyuruh orang sholat, yang seakan-akan memerintahkan orang lain untuk sholat tetapi diri sendiri tidak sholat.

Jadi marilah kita berbuat baik dengan mengesampingkan perbedaan yang ada, dan temukan rasa kemanusiaan dalam diri kita masing-masing, karena bagaimanapun juga kita ada satu persamaan yang tidak bisa kita elak yaitu kita adalah sesama manusia.(hpx)

Look for Equations, Not Differences (Carilah Persamaan, Bukan Perbe... | Ecency