Orang-Orang Malam Hari

gulistan(57)
Published in
#story
Words
218
Reading
1 min
Listen
Play
9y

Selamat memasuki distrik nyala manusia-manusia yang tunduk pada ketenangan limpahan kesunyian.

Sementara mata sebagian besar darimu terpejam, di sudut lain, semesta raya tengah dipenuhi dengan pikiran, hayalan serta keringat kerja yang sedang dikucur habis-habisan. Orang-orang tertentu melepaskan diri dari belenggu kesibukan sejak senja putik hingga pagi memantik. Namun ada yang tidak bisa rehat saat itu, ia juga tak bisa lelap secepatmu dengan setidaknya dua alasan, yaitu kebiasan dan atau tuntutan. Malam yang dihampar serupa tilam tidak menjadi nikmat bagi mata-mata orang yang dibui kenikmatan, keinginan, dan keharusan menjamah cakrawala malam. Tubuh kalian rebah pasrah setelah lelah seharian, mereka baru memulai menarik sauh pekerjaan.
IMG_6920.JPG

Kita memang kerap menjadi pelawan, bahkan untuk takdir, terkadang bahkan untuk perintah Tuhan. Untuk pekerjaan, harusnya kita patuh pada hukum kemestian. Bahwa sejak mekar pagi hingga jelang pulang matahari adalah masa menyelesaikan segala persoalan dan tanggung jawab untuk hidup dan menghidupi. Dan malam adalah masa pulang, rehat, menyatu dengan ketenangan diri. Namun kemestian tidak berlaku bagi semua orang. Ada kalanya keadaan menuntut kita membalikkan kenyataan: malam ke siang, tidur ke jaga, terang ke gelap, rehat ke kerja, tenang ke riuh, putih ke lusuh.

Selamat tidur, kawan. Biarkan para pegadang seperti kami meminjam takdir kelelawar. Dan esok pagi, ketika kalian terjaga kami akan terbagi menjadi dua golongan: rebah pasrah di tilam atau tetap menyala melanjutkan pencarian.

Orang-Orang Malam Hari | Ecency