Temanku Ustadz

Words
323
Reading
2 min
Listen
Play
8y

Semasa kuliah, aku punya teman yang aktif dengan kegiatan Agama di kampus. Dia enggan berteman, jika tak seirama dengan gayanya. Baik dari segi pakaian, sampai cara ketawa. Perempuan-perempuan yang tak berbusana sesuai hukum syar'i, sinis dipandangnya. Oleh sebab itu, aku malas untuk akrab dengannya jika di kampus.
image
Namun cerita di suatu malam, aku nginap di kosannya. Kulihat dia malah suka menonton film India yang bintang filmnya menggunakan baju sexy. Beberapa folder di laptopnya menyimpan beberapa gambar bintang film India dengan busana bikini. Kudeskripsikan sedikit tentang kawanku itu. Dia berambut klimis. Kerap menggunakan baju kemeja lengan panjang, dan selalu di kancing ujung lengannya. Kadang juga menggunakan baju Koko. Memakai celana kain, dan punya setumpuk jenggot di dagunya. Nada ringtone di hp-nya saat ada panggilan masuk adalah selawat. Untuk menjaganya, tak usah kusebutkan nama dia di sini.

Dulu, aku memang sering nginap di kosannya. Aku jarang sekali melihat dia bangun subuh. Kukatakan seperti ini karena, aku sering terbangun saat mendengar suara azan di menasah dari mulut toa yang seakan berada di balik jendela kamarnya. Kebetulan kosnya dekat sekali dengan Menasah. Dan sialnya saat seperti itu, aku sulit untuk bisa tidur lagi meski tak shalat subuh. Kulihat kawanku itu begitu pulas tidurnya. Aku pernah mencoba membangunkannya, namun dia kesal dan marah.
image
Di kampus dia dipanggil Ustadz. Karena mengajar pada Unit Program pendampingan Pendidikan Agama Islam (UP3AI).
Program itu, khusus untuk memerangi buta Al-Quran pada mahasiswa baru. Aku pernah mendengar dia bacaan Al-Quran, namun tak sebagus kawanku yang satu lagi, yang suka ngomong sembarangan.

Aku ingat beberapa bukunya di atas meja kamarnya; "Madah Cinta Shalihah, Munajat malam Jumat, serta Bahaya Islam Liberal". Ada beberapa lagi yang tak kuingat.

Suatu hari dia mengkritik buku yang aku baca. Saat itu, aku sedang membaca buku kumpulan cerpen "Sampah Bulan Desember" punya Hamsad Rangkuti. Dia mengatakan" untuk apa baca yang tidak ada manfaat. Maka ku ceritakan sedikit isi cerpen itu. Dia tak tertarik, dan mengatakan tak ada manfaat untuk akhirat. Heheh.

Temanku Ustadz | Ecency