BANDANG
(Puisi Oleh Afrida Arfah )
Baru saja semalam mereka dihardik alam
Melayangkan sampah-sampah gunung,
menimbun peraduan
Bukan gunung yang mereka sebut itu
Tanpa epifit yang biasa memeluk batang, hilang...
Karena tangan mereka merusaknya dengan buruk rupa
Bagaimana ramai dan tangis beradu diujung sana?
Ternyata banjir semalam menyisakan gembung ditubuh anak si polan
Marah mereka pada alam,
yang baru dikikis wajahnya oleh tangan-tangan angkuh
Serentak mereka berteriak "mengapa?"
Padahal tangannyalah yang membunuh dirinya dan keluarganya.
Merata kasar pohon-pohon hijau
Menjualnya demi mengisi perut mereka
Tanpa sadar, mereka baru saja menggunduli masa depan anak-anak mereka
Beberapa tahun lalu, aku mewangi aroma liana di sepanjang hutan itu
Melintas beberapa tempat sambil mengejar kupu-kupu
Bersenda dengan daun gemerisik yang disapa angin
Aku mendengar mereka berbicara senang
Antara angin dan daun
Baru beberapa hari lalu aku menilik tempat lalu
Ingin memutar lawas canda angin dan daun
Namun, hanya ada angin menangis menebar rindu
Dengan suara riuh memanggil daun yang terhempas
Lalu mengering tanpa asa, menyatu tanah.
Senja itu, awan berkumpul membuat gelap
Bentakannya sampai ke kampungku
Aku berlari kencang, mengabarkan alam sedang marah
Ia akan rusuh malam ini
Seperti kami yang merusuhi naungan mereka
Terlambat.... Amarahnya tak terbendung
Meracau ditengah sunyi
Membawa pergi dinding kayu lindungan kami
Menyertakan sanak kami yang terlanjur lemah
Menyisakan teriakan yang tertinggal