Dulu sekali, saya bukanlah penggemar segala sesuatu tentang India. Bukan penggemar film Bollywood meskipun sering menonton film-film Bollywood. Bukan fans aktor dan aktris India meskipun saya lebih tahu banyak dan hapal nama-nama mereka dibanding aktor dan aktris Hollywood. Absurd? Tidak juga menurut saya. Itu lebih karena India buat saya biasa-biasa. Dibilang penggemar bukan, dibilang tidak suka juga bukan. Lover bukan, hater juga bukan. Benar-benar biasa-biasa saja.
Satu-satunya tentang India yang terekam kuat di ingatan saya adalah cerita Mahabharata. Saya membaca cerita Mahabaharata, juga Ramayana, di perpustakaan sekolah yang sangat apa adanya. Saya sangat menyukai cerita Mahabharata, sampai-sampai saya ikuti dramanya, baik yang versi 1990-an maupun drama Mahabharata versi 2014. Saya menonton keduanya―Mahabharata versi lama dan versi baru―berulang-ulang. Saya memiliki banyak draf tulisan tentang Mahabharata―baik dari buku maupun dari drama, semoga bisa saya selesaikan satu persatu suatu saat.
Selain tentang Mahabhrata, pengetahuan saya tentang India sangat minim.
Sampai kemudian saya bertemu dengan orang India. Bukan satu orang, tapi beberapa orang. Bukan dalam waktu sebentar, tapi berinteraksi dalam waktu lama. Bergaul lama dengan mereka membuat saya bertanya-tanya tentang banyak hal: makanan, bahasa, pakaian dan banyak lainnya. Kadang saya sering tidak puas dengan jawaban mereka. Maklum, semua karena kendala bahasa. Bahasa Inggris saya belepotan, pun demikian dengan mereka. Kalau sudah mentok, akhirnya saya mencari informasi tambahan di Google, baru kemudian saya konfirmasi dengan mereka. Kadang saya suka ber’wow-wow’ ketika menemukan fakta-fakta baru dan unik tentang India.
Kichuri, makanan khas Asia Selatan (India, Bangladesh, Nepal).
Sebenarnya, tidak begitu lama sebelum saya mengenal beberapa teman dari India, saya sempat membeli beberapa novel yang ditulis oleh pengarang-pengarang dari India. Saya pencinta bacaan-bacaan fiksi, jadi saya suka mengoleksi buku-buku fiksi dari pengarang-pengarang lintas negara. Tiga di antara pengarang India yang bukunya sempat saya koleksi adalah Jhumpa Lahiri, Chitra Banerjee Divakaruni, dan Chetan Bhagat. Di sisi lain saya juga adalah si penimbun buku, beli terus dan beli lagi, tetapi bacanya kapan-kapan. Agak menyesal juga ketika bertemu dengan teman-teman dari India tetapi saya belum membaca satupun novel-novel dari pengarang India. Memang novel adalah fiksi, tetapi sering saya menemukan fakta-fakta menakjubkan tentang sebuah kota atau daerah dari sebuah novel.
Ketika pulang, saya membereskan buku-buku fiksi yang saya kumpulkan bertahun-tahun. Membereskan dalam artian saya simpan di tempat yang lebih layak, dari yang sebelumnya hanya tersimpan dalam kardus. Saya menempatkan buku-buku dari tiga pengarang India yang saya sebutkan tadi di rak buku terbuka yang dekat dengan tempat tidur, yang artinya buku-buku tersebut akan saya baca sekarang
Dari tiga pengarang India tersebut, saya sering dibawa menjelajah ke berbagai sudut di India.
Sebagian buku Chitra Banerje Divakaruni yang saya punya
Bersama Chitra Banerjee Divakaruni, saya dibawa untuk melihat riuhnya kota Calcutta, menjelajah ke sudut-sudut perkampungan di India, dan merasakan keterasingan hidup di negeri Paman Sam.
Tampaknya saya sudah terserap begitu jauh ke dalam karya-karya Divakaruni, penulis India yang sekarang tinggal di Amerika. Saya ingin segera terbang ke India dan mewujudkan kekuatan sebuah deskripsi di depan mata sendiri.
Bersama Chetan Bhagat dalam novel ‘2 States’-nya, saya dibawa ke tempat kelahiran Mahatma Gandhi, Porbandar, untuk melihat Sabarmati Ashram, sebuah tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara; atau ke Chennai, kota di mana pusat perfilman India milik orang-orang Tamil, Kollywood, berkembang sangat pesat; atau turut menikmati restoran-restoran romantis di Pondicherry atau Goa.
Setelah membaca novel-novel dari novelis dari India, kepala saya jadi penuh dengan banyak hal tentang India, terutama Calcutta dan Chennai. Masih ada beberapa judul novel dari pengarang India di atas yang belum saya baca, artinya masih banyak tempat yang belum saya ‘kunjungi’.
Sedikit tempat saja sudah membuat saya jatuh cinta, bagaimana lagi jika menambah bacaan saya tentang India?
Sungguh membaca buku (novel) bukan hanya tentang menikmati sebuah karya. Ini lebih dari itu. Saya sering dibawa untuk melihat dunia. Membaca novel telah mengubah persepsi saya. Dari yang dulu hanya biasa-biasa saja menjadi jatuh cinta terhadap India.
Ya Tuhan, kapan saya bisa ke India?