Asal-muasal atau sejarah suku Gayo di Indonesia tidak dapat diketahui secara pasti, karena masih diselimuti oleh kabut misteri kerahasiaan. Dapat dikatakan masih belum terungkap dengan jelas, sebab di samping tidak memiliki data ilmiah yang akurat dan otentitik, serta kemungkinan karena tidak terlihatnya bukti-bukti sejarah suku Gayo ini, juga memiliki versi yang beragam dan tampaknya masih simpang siur tentang darimana asal-usul, kelahiran dan perkembangan mereka. Namun dilihat dari segi perjalanan waktu (historical approach), masyarakat suku Gayo di Indonesia tidak tiba-tiba muncul di kolong langit dunia ini, mereka pasti punya sejarah (the have a history) seperti kelompok etnik atau suku-suku lain di Nusantara ini, Seperti Suku Aceh, Batak, Jawa, Melayu, Minang dan Madura.
Dalam buku “Seri Informasi Aceh Tahun VI Nomor 4” tentang tinjauan selintas adat istiadat Gayo yang dikeluarkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh tahun 1982 pada pengantarnya dikatakan bahwa; Sebagian besar penduduk Aceh terdiri dari bangsa Aceh, tahun 1980 berjumlah dua juta dari keseluruhannya, atau berjumlah 2.60.926 jiwa), sedangkan selebihnya adalah suku-suku bangsa lain, yakni suku bangsa bangsa: (a). Gayo yang mendiami Kabupaten Aceh Tengah (saat ini telah dimekarkan menjadi dua Kabupaten, yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah). (b). Gayo Alas yang mendiami Kabupaten Aceh Tenggara (c). Tamiang (Teumiang) Gayo Seumamah dan Gayo Kakul (atau Kalul) yang mendiami sebagian Aceh Timur. (d). Aneuk Jamee Singkil dan Kluet mendiami sebagian Aceh Selatan. (e). Simeulu (yaitu Defayan dan Sigule) yang mendiami sebagian Aceh Barat.
Walaupun kajian antropologi tentang asal-usul suku Gayo di Indonesia menurut pengetahuan penulis belum begitu jelas dan benar, tetapi ada beberapa literatur atau dokumentasi yang dapat dijadikan sebagai sumber rujukan keotentikannya. Di antaranya adalah dalam buku “Monografi Daerah Aceh Tengah 1981” bahwa Penduduk yang tergabung dalam suku Gayo, pada mulanya berasal dari Melayu Tua yaitu sejenis kelompok atau bangsa Melayu yang pertama mendiami kepulauan Indonesia.
Berdasarkan sejarah bahwa setelah bangsa Melayu datang kedua kalinya ke kepulauan Indonesia, maka Melayu Tua yang sudah terlebih dahulu datang dan mendiami Indonesia sebahagian mereka mengalami assimilasi dengan berbagai suku-suku lain di Indonesia, dan sebahagian mereka lagi mendiami wilayah Aceh Tengah (Gayo Lut dan Gayo Darat), sebagaian wilayah Aceh Tenggara (Gayo Lues), dan sebahagian wilayah Aceh Timur (Gayo Sumamah atau Gayo Serbejadi dan Gayo Kalul).
Wilayah-wilyah tersebut masih didiami oleh suku Gayo sampai sekarang. Namun dalam buku Monografi tersebut tidak dijelaskan kapan mereka mulai mendiami kepulaun Indonesia dan Aceh ini, pada abad keberapa, tahun berapa, siapa orangnya yang pertama mendiaminya, ini yang tidak ada dikemukakan dalam buku itu, sehingga menimbulkan pengkaburan sejarah, yang pada gilirannya kebenarannya diragukan. Hal ini juga tidak bisa disalahkan siapa-siapa, karena barangkali pada waktu itu belum ada ahli sejarah yang dapat mencatat dan membukukannya secara pasti, kalaupun ada ahli sejarah yang mencatat, kapan mereka mendiami kepulaun Indonesia sudah cukup lama sekali. Bahkan kalaupun sekiranya ada kelompok tertentu, apakah suatu badan, atau tim peneliti yang melakukan penelitian lebih lanjut tentang asal-usul suku etnik ini, sudah agak sulit dilacak atau ditemukan informasiinformasi yang akurat dan berdasarkan data-data yang otentik.
Bagi generasi muda Gayo sekarang harus bersyukur kepada Allah SWT., dan berterima kasih kepada para pendahulunya, sebab para pendahulu atau nenek moyang mereka telah bersusah payah mengukir dan merintis sejarah panjang mereka, sebahagian dari mereka ada yang telah dapat menulis dan menceritakan sejarah etnik ini secara turun temurun. Salah satu contoh misalnya bahwa menurut cerita turun-temurun dari nenek moyang etnik ini, menjelaskan bahwa orang Gayo di Indonesia pada mulanya bermukim di bagian Timur dan bagian Utara Aceh meliputi wilayah aliran sungai antara Sungai Temiang di sebelah Timur dan aliran Sungai Peusangan di Sebelah Barat.
Berabad-abad kemudian mereka pindah ke pedalaman menyusuri sungai-sungai yang ada, termasuk Sungai Jambu Ayee. Akibat pertambahan dan perkembangan penduduk, baik karena kelahiran maupun karena pendatang, guna mempeluas usaha pertanian. Pernyataan ini merupakan suatu cerita yang turun temurun dari mulut ke mulut atau dari mulut ke telinga, yang kadang-kadang cerita ini kemungkinan benar dan kemungkinan bisa salah, tapi inilah data sejarah yang sangat penting bagi generasi muda sekarang dalam mengetahui eksistensi sejarah etnik Gayo di Nusantara ini.
Meskipun cerita di atas dikemukakan berdasarkan cerita nenek moyang yang sifatnya turun temurun dari mulut kemulut atau dari mulut ketelinga, akan tetapi cerita di atas berkaitan dengan sumber lain, seperti yang ditulis oleh H. Zainuddin dalam bukunya “Tarekh Aceh dan Nusantara” bahwa penduduk Peureulak yang tertua yang asalnya dari Melayu Tua pindah ke Seummah dan kemudian ke Serbajadi, Lingga (Linge) dan Nuzur (Isaq) melalui Sungai Peunarun.
M.J. Melalatoa, dalam bukunya “Kebudayaan Gayo 1982” mengemukakan bahwa nenek moyang dari orang Gayo pergi menyusur sungai-sungai besar seperti Jambo Aer, pesangan, Sungai peurlak, Sungai Temiang, menuju kearah selatan. Ada di antara mereka yang lalu menetap di Hulu Sungai Peurelak, yaitu orang serbejadi, ada pula yang menetap di Hulu Sungai Tamiang, yaitu orang Gayo Kalul. Kelompok lainnya menyusur Sungai Pesangan sampai ke hulunya di Danau Laut Tawar, sampai sekarang.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa bagi masyarakat Gayo sendiri, “zaman purbanya” dikenal lewat cerita-cerita dari mulut ke mulut. Cerita semacam ini termasuk dalam kategori cerita rakyat,. Terutama dalam bentuk legende. Legende-legende itu sendiri biasanya berada dalam keragaman versi. Dalam berbagai tulisan dijelaskan bahwa orang Gayo adalah sekelompok orang yang tidak mau masuk Islam di daerah Pantai, kemudian mereka melarikan diri ke daerah pedalaman yaitu ke Hulu Sungai Peusangan, karena itu dikatakan “Kaiyo” (bahasa Aceh berarti takut atau melarikan diri), selanjutnya kata “Kaiyo” berubah menjadi sebutan “Gayo”.
Dari keterangan di atas. M.J. Melalatoa menjelaskan bahwa orang Gayo itu ada setelah agama Islam datang ke Aceh dan keterangan ini diambil dari hikayat Aceh. Apakah tidak ada kemungkinan karena orang Gayo itu lebih akhir mendapat pengaruh Islam itu, lalu dikatakan orang Gayo yang tidak mau masuk Islam. Kemungkinan lain ada orang Pesisir yang tidak mau masuk atau memeluk agama Islam, kemudian bergabung dengan orang Gayo yang belum dipengaruhi ajaran Islam tadi, jadi, bukan karena tidak mau masuk Islam, tetapi terlambat mendapat pengaruh Islam. Oleh karena hal ini masih perlu dipertanyakan, dikaji dan harus melakukan suatu penelitian yang serius dan sungguhsungguh. Sebenarnyalah orang-orang Gayo bukanlah melarikan diri karena takut masuk ajaran Islam, melainkan mereka hijrah atau pindah untuk mencari penghidupan yang lebih layak, patut, dan lebih sejahtera serta luas ke Samudra Pasai.
Berdasarkan sejarah, sebenarnya orang Gayo sudah ada sejak pra Islam sesuai dengan pernyataan C. Snouck Hurgronje dalam bukunya “Het Gajoland en Zijne Beworners” menjelaskan bahwa orang Gayo ketika itu masih anamistis sudah Gayo namanya. Jadi, bukanlah timbul sesudah orang Batak diislamkan. Pernyataan C. Snouck ini selaras dengan pernyataan M.J. Melalatoa bahwa pada masa sebelum Islam, konon sudah ada suatu kerajaan di daerah Gayo sekarang yang bernama Kerajaan Linge. Kapankah kerajaan ini mula pertama berdirinya, kiranya tidak ada suatu keterangan yang pasti. Keteranganketerangan yang ada dari berbagai sumber tampak ada kesimpangsiuran. Kalau sekiranya Kerajaan Linge ini berdiri setelah Islam datang ke Tanah Gayo diperkirakan sekitar tahun 800 M., dalam sumber lain Kerajaan Linge ini berdiri pada abad V H. atau abad XI M., sudah tentu banyak ahli sejarah yang mencatat kapan berdirinya, tapi oleh karena kerajaan ini keterangannya masih simpangsiur dan beragam, maka dapat dipastikan berdirinya pada masa pra Islam datang ke Gayo.
Menurut Versi yang ditulis A.R. Hakim Aman Pinan dalam bukunya “Asal Linge Awal Serule” menunjukkan bahwa Kerajaan Linge ini berdiri pada zaman pra Islam, kendatipun Aman Pinan tidak menulisnya demikian, tapi yang jelas dimaksud Genali sebagai Raja Linge di sini adalah Genali pada zaman Roh Beldem. Genali adalah sebentuk pangkat atau gelar Anumerta, tidak sama dengan Genali yang tertera dalam “Silsilah Asal-Usul Keturunan Sultan Peurelak dan Linge Gayo” maksudnya lewat silsilah di atas adalah Meurah Ishaq ke Meurah Mersa, Meurah Mersa ke Meurah Jernang turun ke Adi Genali.
Perbedaan versi di atas, wajar dan lumrah sepanjang sejarah perkembangan pemikiran umat manusia, karena banyaknya sumber dan informasi-informasi yang beragam tentang sejarah Gayo. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan di sini adalah darimanakah asalusul Genali, yang disebut sebagai nenek moyang suku Gayo di nusantara ini. Ada lengende yang mengatakan bahwa orang Gayo pertama berasal dari “Negeri Rum”, orang itu adalah seorang laki-laki yang bernama Genali, terdampar kesebuah pulau kecil di kawasan Pulau Sumatera sekarang. Pulau kecil yang dimaksud adalah Pulau Sumatera sendiri yang ketika keadaannya belum sebesar seperti sekarang.
Diceritakan bahwa Genali menikah dengan seorang putri raja yang sangat cantik jelita dari negeri Johor yang bernama “Putri Terus Mata”, dari hasil pernikahan ini lahirlah keturunan mereka, kemudian tumbuh dan berkembanglah penduduk di Pulau Kecil ini, yang dinamakan dengan Pulau Buntul Linge, dan sebagai rajanya yang pertama adalah Genali sendiri dengan permaisurinya Putri Terus Mata. Di Pulau Buntul Linge inilah masyarakat Gayo semakin berkembang jumlahnya. Pulau tetangganya adalah bernama Serule. Ketika air laut menjadi surut kedua pulau itu menjadi satu. Oleh sebab itu, kalau membicarakan tentang asal muasal suku Gayo di Nusantara ini selalu disebut dengan “Asal Linge Awal Serule”, artinya Linge dan Serule sama-sama asal dan sama-sama awal (asal = awal), artinya Linge dan Serule mempunyai rakyat dan pemimipin sendiri.
Di Linge terkenal dengan Kerajaan Linge dengan raja pertamanya adalah Genali. Sedangkan di Pulau Serule juga mempuyai rakyat dan para pemimpin, Sebagai Perdana Menterinya yang pertama adalah Cik Serule. Sebenarnya asal dan awal itu adalah hampir bersamaan maknanya, namun demikian dijelaskan bahwa asal lebih dahulu ada barulah muncul awal, sebagai contoh umpamanya Tengku Rejewali lahir di Kebayakan, lalu ia hijrah ke Kampung Bintang, maka kampung Kebayakan adalah asal, sedangkan Kampung Bintang adalah awal.
Versi lain yang menuliskan bahwa asal-usul suku Gayo berasal dari Cina (Tionghoa), sebagaimana dikemukan Geniri, ahli sejarah yang menghubungkan Gayo dengan nama “Dagroian” dari Marco Polo dan ia berpendapat bahwa kata itu singkatan dari “Drang- Gayu” yang dengan awal “Da” yang berarti “orang” dan “Gayu” yang berarti “Gayo”. Jadi “Drang-Gayu” adalah orang Gayo. Malah Geniri mengatakan Nadur (Nagor) dalam beritaberita Tionghoa adalah negeri Gayo. Dari berbagai sumber dan keterangan-keterangan yang ada, baik dari Lengenda-lengenda atau cerita rakyat Gayo, maupun literatur-literatur yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa suku Gayo di Nusantara ini, ada yang berasal dari Melayu Tua, ada juga yang berasal dari negeri Rum dan Johor, percampuran darah antara Genali dengan Putri Terus Mata, bahkan sebagian ada di antaramereka yang berasal dari Tionghoa.
Perbedaan itu wajar, karena banyak sumber atau tulisan-tulisan yang ia kutip sebagai argumentasi tentang asal-usul suku Gayo di Nusantara. Kita sebagai generasi penerus harus dapat memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang keliru, bahkan harus mampu menggali kembali keotentikan serajah Gayo ini yang sesungghunya. Meskipun ada perbedaan dan persamaan versi tentang kebenaran sejarah tentang asal-usul Suku Gayo di Indonesia, khususnya di Aceh. Kesemuanya itu kembali kepada Allah SWT., Sumber Segala Sumber Sejarah, Sumber Segala Ilmu Pengetahun, Dia-lah yang Maha Tahu, lagi Maha Mengetahui atas segala sesuatu, baik yang realitas maupun yang abstrak. Kelompok etnik Gayo memang merupakan salah satu kelompok etnik di Nusantara, dan dari segi populasi masyarakat Gayo jumlahnya sangat minoritas dan mendiami lokasi yang bergeografis pegunungan yang kurang strategis dari segi perdagangan dan perekonomian. Namun yang jelas, masyarakat Gayo punya sejarah dan saham sendiri dalam mengisi serta sebagai pelaku pembangunan bersama sebuah “nation state” yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia bekas territorial kolonial Belanda dan Jepang.
Salam Gayo