Watching the Kite Festival with My Kids [ENG - IDN]

Words
879
Reading
4 min
2h
Listen to this post
~6 min

Mini Janggan Kite

It was 10:30 a.m. on a Sunday, two weeks ago. The sun shone intensely, and the sky was a brilliant, clear blue, dotted with clusters of white clouds—as if the Creator had intentionally scattered them there to enhance the beauty of the day.

Although the heat was scorching, it did not deter the young people who had gathered. Some arrived alone, but most came in groups of two to five, each group bringing their own kites—often more than two per group.

kite festival participants

kite festival participants

Indeed, a kite festival was taking place that day, organized by a group of young people in my village. As far as I know, they have held this festival several times, starting sometime last year or two.

It was hosted in the rice fields near my home; the festival is typically held after the rice harvest, so the fields used for the event were dry.

alt

alt

I walked to the festival from my house with my two children—it’s only about 250 meters away. Upon arriving, I found the area bustling with young kite enthusiasts—known in Balinese as *Rare Angon*.

They brought kites featuring a wide variety of designs. The festival included competitions for several types of traditional kites. The frames were crafted from shaved bamboo, covered with plastic sheets in colors chosen according to the creator's own creativity. I noticed that none of the kites at this festival had a wingspan exceeding two meters.

Watching them fly their kites with such excitement brought back memories of when I was their age, joining my friends in the annual kite competition held at Padanggalak Beach. Although I’m not a kite enthusiast myself, I still fondly recall the joy of flying our giant kite—which had a three-meter wingspan, a bamboo frame, and a fabric cover—together with my friends.

alt

alt

Unlike in the past, the kites used in competitions today are designed to be "knockdown"—they are assembled only upon arrival at the site, ready for flight. The frames can be taken apart and packed down, making them space-efficient and easy to transport. There’s no longer any need to rent a large truck just to haul a single kite, as was the case in the old days.

alt

alt

I especially love watching *Janggan* kites in the sky. They are designed to resemble dragons, complete with an incredibly long tail—sometimes stretching anywhere from over a dozen to hundreds of meters.

alt

*Janggan* kites are considered sacred; their creation requires specific ceremonies or rituals, particularly for the dragon-like mask. However, this smaller-scale festival does not feature the giant *Janggan* kites that require such elaborate rituals. Yet, it still leaves me transfixed whenever I see it flying in the sky.

Are there any unique stories about kites where you live, or perhaps you have an unforgettable experience of your own from flying kites?

Minggu jam 10.30 pagi, dua minggu yang lalu. Matahari bersinar dengan teriknya, langit biru cerah dengan sekumpulan awan putih di beberapa tempat, seolah memang sengaja disebarkan di berbagai tempat oleh sang Pencipta untuk menambah keindahan langit hari itu.

Meski udara terasa menyengat, tidak mengurungkan niat para pemuda yang sedang berkumpul. Ada yang datang seorang diri, namun lebih banyak yang datang berkelompok mulai 2 orang hingga 5 orang. Setiap kelompok membawa layangan masing-masing. Kebanyakan membawa lebih dari 2 layangan.

Ya, hari itu sedang dilaksanakan kite festifal yang diselenggarakan oleh sekelompok pemuda di desaku. Setauku, mereka sudah beberapa kali mengadakan kite festival dari tahun lalu kalau ga salah. Lokasinya di sawah dekat rumahku. Biasanya festival ini dilaksanakan saat setelah panen padi. Jadi areal persawahan yang dijaddikan lokasi festival dalam keadaan kering.

Aku menyaksikan festival itu bersama kedua anakku dengan berjalan kaki dari rumah. Jaraknya mungkin sekitar 250 meter dari rumahku. Sampai disana, sudah ramai oleh anak-anak muda kelompok layangan. Klo dalam istilah Bali biasa disebut dengan Rare Angon. Mereka membawa layangan dengan berbagai desain.

Festival ini melombakan beberapa jenis layangan tradisional. Untuk rangka layangan, terbuat dari bambu yang diraut. Selanjutnya dibungkus dengan lembaran plastik dengan pilihan warna sesuai kreativitas pembuatnya. Aku liat, untuk festival ini ukuran lebar badan layangan ga lebih dari 2 meter.

Melihat keseruan mereka menerbangkan layangan, membuatku teringat ketika aku seusia mereka ikut teman-teman mengikuti lomba layangan yang rutin diadakan tiap tahun di Pantai Padanggalak. Meskipun aku bukan penggemar layangan, aku senang ramai-ramai menerbangkan layangan raksasa kami. Ukuran lebarnya 3 meter, rangka terbuat dari bambu dengan penutup kain.

Beda dengan saat ini, layangan yang akan dilombakan sudah didesain knockdown. Jadi sampai lokasi baru dirakit dan siap diterbangkan. Rangkanya bisa dilepas dan diringkes. Hemat tempat dan mudah dibawa.

Ga perlu lagi menyewa truk besar untuk mengangkut 1 buah layangan seperti jaman dulu.

Aku paling senang melihat layangan Janggan saat mengudara di langit. Desainnya menyerupai naga dengan ekor yang panjang - sangat panjang bisa mencapai belasan hingga ratusan meter.

Layangan Janggan adalah layangan sakral karena untuk membuatnya diperlukan upacara atau ritual khusus. Terutama untuk bagian topengnya yang menyerupai naga.

Namun, untuk festival kecil ini tidak melombakan layangan Janggan raksasa yang dibuat dengan ritual tertentu. Namun tetap saja membuatku terpaku saat melihatnya terbang di langit.

Apakah di tempatmu juga ada kisah unik tentang layangan atau kamu punya pengalaman tak terlupakan saat bermain layangan?

Note:

This post was made in Indonesian and translated into English with the help of Google Translate.

All pictures and video were taken with my cellphone.

Watching the Kite Festival with My Kids [ENG - IDN] | Ecency