"Apa varietas kopinya? Bagaimana berani pakai label specialty, bla.. bla.. bla." Dengan tajam di intrerogasi.
Pasalnya sederhana. Dia jual kopi juga. Dan membanggakan produk kopinya sudah standar dewa.
Awalnya memilih senyum, debat sesama pencari nafkah, tidak berguna diperpanjang. Pun tidak ada orang lain selain kami-kami juga. Jadi tidak ada yang dirugikan.
Tapi makin lama semakin tajam. Bukan hanya menusuk hati, mulai menyayat telinga. Sabar pun bukan tanpa batas. Sebaiknya diselesaikan sebelum putus sekring.
Kebetulan saya membawa sebungkus kopi saya, Havennoer namanya. Hendak diantar ke seorang 'guru kopi' saya, biasalah, meminta penilaian rutin. Jadi saya letakkan di meja. Saya tunjuk label kami. Tak ada istilah specialty, longberry, peaberry dll, di label itu.
"Kami menuliskan premium selection di kemasan. Karena kopi kami sudah dipilih sejak buah. Petik merah, seleksi saat perendaman. Penjemuran hingga persentase blending yang jadi khas kami. Tidak pernah ada penyataan specialty atau apa. Kami melakukan yang sebaik mungkin untuk kopi kami. Kami bukan yang terbaik, di Dataran Gayo banyak yang lebih baik dari kami, tapi yang kami berikan untuk pelanggan adalah yang terbaik dari kami. Kami juga tidak pernah memaksa orang membeli. Alhamdulillah rata2 pembeli, ya beli lagi."
Saya diam. Dia diam. Lalu sama-sama menyeruput kopi. Mengalihkan pembicaraan membahas konsonan Vicky, film, apapun, selain kopi.
Ah kawan, bangga pada apa yg kamu miliki itu harus. Supaya ada keinginan menjaga kualitas. Tapi terlalu bangga sampai menilai semua selain kamu itu buruk, itu bodoh.
Kekuatan kita yang berdagang hanya sebatas pada usaha untuk memberikan yang terbaik dari kita untuk pelanggan, kita bisa saja promosi, dan 'membujuk' konsumen membeli untuk pertama kalinya. Tapi soal balik lagi, beli lagi untuk kedua kalinya, itu soal selera dan rezeki dari Allah.
Saling menghargai saja. Rezeki tidak akan tertukar.