41 tahun GAM. 29 tahun angkat senjata. Ratusan tentara dikirim gonta-ganti dari Jakarta. Ratusan ribu orang hilang nyawa. Jutaan orang memendam trauma. Para penjahat perang berkeliaran. 2004 smong. 2005 damai. 41 tahun GAM. 12 tahun hingga kini, berjuang (sesuai visi NKRI?) dengan modal Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA). Para penjahat perang nongol di televisi. Partai lokal tumbuh. Mantan kombatan terlibat dalam politik praktis. Pragmatis. Politik praktis memecah belah mantan kombatan. Yang idealis tersingkir. Yang jujur dan memegang teguh amanah perjuangan menyingkir. APBA berjumlah triliunan. Partai lokal dan partai nasional mengerubunginya. Saling rangkul atau di lain waktu saling sikut oleh sebab beda kepentingan.
Nasionalisme ke-Aceh-an bergemuruh. Trauma pahit perang menyeluruh. Orang-orang partai lokal melakukan kerja-kerja politiknya dengan energi penuh. Damai berlanjut dalam dinamika ke-Aceh-an yang kadang menggemaskan. Kadang melenakan. Kadang memiriskan. Kadang lucu. Kadang pilu. Kadang ambigu. Dan kerap membuat orang luar yang tak begitu paham sejarah merasa sok-sok kasihan, masih saja menganggap Aceh negeri yang menyeramkan.
Damai berlanjut. Anak-anak muda mendefinisikan ke-Aceh-annya dalam banyak cara. Seni menggeliat. Ribuan muda-mudi dikirim bersekolah ke luar negeri. Sementara. Orang-orang tua masih tetap mendendangkan Hikayat Prang Sabi, dan dalail khairat dari corong meunasah (semoga) akan terus membahana. Orang muda dan para tetua berpadu, meski di beberapa tempat rasa sentimen masih kental terasa. Lebih-lebih ketika orang muda bilang kalau para tetua sudah tidak lagi kuat, sudah butuh obat kuat, mesti segera istirahat. Orang tua menyangkal ini dan menyengketakannya dengan memboikot acara nikah si orang muda. Keterpaduan tua-muda kadang beku, tapi di banyak tempat cair dan mengalir.
Ketimpangan masih ada. Tapi begitulah idealnya sebuah negeri. Sebab negeri idaman yang aman sentosa selamanya, barangkali hanya ada di surga. Ketimpangan di sana-sini masih tampak kentara. Semisal para mantan kombatan yang tak benar-benar mantan kombatan, yang lepas damai 2005 mengaku-ngaku terlibat dalam banyak perang, kaya mendadak. Sementara yang pernah bertungkus-lumus dengan desing peluru, masih berkutat dengan jatah raskin (beras miskin). Namun ketimpangan seperti itu adalah pemicu akan tumbuhnya yang baik-baik, dan moral kemanusiaan pelan-pelan merapatkan betisnya.
Apa yang kupikir agak menakutkan hanyalah satu: buta sejarah. Sebab: