Hari ini adalah hari ke 14.601 aku berada di muka bumi. Di usia 41 tahun kurang 53 hari, sudah banyak pengalaman yang semestinya jadi pembelajaran dalam mengarungi bahtera kehidupan. Seperti yang juga kalian alami, aku cukup cukup merasakan pengalaman di masa sulit dan menyenangkan silih berganti terjadi. Dari berbagai momen itu ada banyak sekali yang bisa ditertawakan kini. Semua indah di memori kenangan. Adrenalin masa kecil dan masa remaja cukup tersalurkan. Lahir dan tumbuh besar di sebuah desa nelayan, ada banyak momen cerita yang asik untuk dikenangkan. Namun aku belum akan bercerita detai tentang kampung dimana aku dilahirkan. Sudah hampir 15 aku tidak menetap tinggal di sana. Ada momen yang dilain waktu Insyaallah aku akan berbagi disini tentang kampung halaman dimana aku lahir dan dibesarkan.
Sudah dua tahun terakhir aku mendiami kota Banda Aceh. Setelah kurang lebih menghabiskan setahun pertama kuhabiskan di Ajun, Aceh Besar. Kini aku bergeser menjadi penghuni "ilegal" kotamadya Banda Aceh. Kota Madani yang masih menjadi magnit utama bagi kami yang berasal dari kabupaten kota yang lain. Aku menjejakkan kaki di kota ini pertama sekali pada 22 tahun yang lalu. Suasana kota masih sedikit banyak sama seperti dulu. Hanya kini, pasca Tsunami 2004, beberapa daerah pesisir mengalami perubahan drastis. Ada banyak ruas jalan baru yang dulunya tidak ada. Bahkan sudah ada jembatan layang yang tadinya hanya aku saksikan di kota besar lainnya. Menjamurnya warung kopi yang menjadi tongkrongan favorit generasi tua muda juga mungkin indikator pertanda adanya perubahan zaman yang seharusnya terjadi di kota ini.
Namun apakah perubahan ini menuju ke arah yang lebih baik, itu yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Pertanyaan tolak ukur apa yang dipakai untuk standard rata-rata aku tidak mengerti juga. Tapi ada satu hal yang menarik dan bisa menjadi indikator tertentu. Setidaknya di kota ini sudah banyak orang yang berbahasa Indonesia dengan baik dan terlihat sangat antusias untuk itu. Mungkin ini bisa dikatakan capaian nyata tentang kemajuan zaman di ibukota provinsi ujung barat Sumatera ini. Untuk bidang lainnya, mungkin ahli yang semoga saja ahli bisa digali untuk referensi tentang kemajuan kota Banda Aceh ini.
Selebihnya tidak ada perubahan yang berarti. Langit masih sama birunya seperti 22 tahun yang lalu. Birunya masih mengundang birahi untuk diabadikan kedalam gambar. Hingga pada beberapa hari yang lalu, saat aku pulang dari rumah kediaman keluarga adikku, Hanum, aku tergoda untuk berhenti di seberang jembatan Pante Pirak. Pemandangan terik siang dan langit biru rada kontras dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Tampak air sungai berwarna coklat pekat. Penyebabnya mungkin curah hujan yang beberapa hari sebelumnya tinggi di kawasan Banda Aceh dan kawasan dataran tinggi di Aceh Besar dan sekitarnya.
Berikut beberapa gambar lainnya yang kuabadikan di kawasan Jembatan Pante Pirak dan Sungai Krueng Aceh
Sampai jumpa di postingan berikutnya...
Langit Biru Dan Sungai Susu | Ecency
Hive Music Festival Week N°135 Round 3 - Ujung Aspal Pondok Gede (By Iwan Fals/ Cover)bobreza ·
A Journey Across Samosir: Where Hills and Water Tell Ancient Storieszainalbakri ·