Kami hanya ingin hidup
Walau di antara cinta yang mulai digadaikan
Pada rindu yang mulai menepi
Atau kasih yang terpasung dalam palung keangkuhan
Hanya ratap, bukan tawa
Di geladak duka yang menyandera
Ditingkap oleh sejumlah kepalsuan
Di atas secarik sejarah kemanusiaan yang mulai terkubur
Di antara puing reruntuhan kasih sayang
Kujatuhkan salam
Tapi tak dijawab
“Kau imiran gelap”, katanya
Ahh...
Dunia terlalu tua untuk aku teriakkan
Terkesan tidak pantas
Tapi sayangnya mereka sudah tuli
Tangis tak lagi menjadi arti
Harga diri telah mati
Dimakamkan dalam liang kebencian
Kami mungkin tidak terdaftar sebagai manusia
Masih adakah gendang rindu bertalu?
Atau resah yang menjemput malu?
Di tengah harapan yang mulai mengering
Karena kemarau kemanusiaan
Telah memasung hati nurani
Dalam amukan benci
Bumi jengah pada kepalsuan
Bibir bertasbih ingin melindungi
Tapi genderang perang malah ditabuh
Kalam tak lagi bermakna
Ia tersandung dalam pucatnya bahasa
Ditikam kepongahan
Namun di tengah gersangnya kasih sayang
Ada hati yang berputik bunga
Membasuh doa dalam dua tangkup tangan
Memberiku air untuk bersuci
Membasuh hati yang hampir mati
Di tanah ini kami kembali menjadi manusia
Asmaul Husna
Lhokseumawe, 30 Mei 2015