Diskusi Sastra dengan Redaktur Budaya

Words
361
Reading
2 min
Listen
Play
9y

IMG_20180115_113826_1.jpg

“Tidak dibenarkan menulis opini dengan berkedok sastra. Karena sastra sendiri adalah sesuatu yang berkedok.”

Poin penting dari diskusi saya hari ini dengan Bang Azhari Aiyub, Redaktur Budaya di media Serambi Indonesia. Bang Azhari mengungkapkan bahwa selama ini banyak penulis yang terjebak menulis opini dalam platform sastra. Padahal sastra adalah sesuatu yang berbeda. Ia fiksi, bahkan boleh jadi hanya omong kosong belaka, bukan fakta yang kemudian dibahasakan dalam percakapan semata.

Sebagai seorang penulis opini, saya memang belum memahami bagaimana menulis tulisan bergenre sastra dengan baik. Jika hari ini artikel saya sudah diterbitkan di media cetak, namun cerpen saya tidak pernah bernasib mujur. Sampai hari ini, tidak ada satu pun cerpen saya terpampang di media, kecuali hanya beberapa puisi yang sempat duduk manis di Serambi Indonesia (nasib). Ini tentu bertolak belakang dengan bayangan saya dulunya ketika masih duduk di bangku SMP, bahwa suatu saat saya akan menjadi seorang novelis, hanya karena suka membaca buku zaman old terbitan Balai Pustaka. Duh!

Tertarik dengan dunia literasi tidak serta merta menjadikan seseorang menguasai semua jenis tulisan. Saya adalah seorang penulis opini yang masih sangat awam tentang penulisan sastra. Namun tidak bisa ditampik bahwa sentuhan sastra sangat diperlukan untuk menjadi bumbu penyedap bagi sebuah tulisan. Bahkan boleh jadi untuk melahirkan roh tulisan agar lebih bernyawa. Karena tanpa sentuhan sastra, sebuah tulisan akan kering kerontang tanpa menyentuh jiwa.

Diskusi santai yang berlangsung selama dua jam di sebuah kedai kopi di Koetaradja tersebut, memberi saya sedikit banyak pencerahan tentang dunia sastra. Ini menjadi penting bagi saya yang selama ini selalu menulis tulisan dengan genre serius. Sebagai seorang Redaktur Budaya, Bang Azhari juga membagikan beberapa tips dan rahasia tentang karakteristik tulisan cerpen yang bagaimana yang akan dimuat oleh Serambi Indonesia.

Tidak hanya sastra, bahasan kami pun kemudian melebar tentang penggunaan bitcoin yang masih menjadi perdebatan di Indonesia. Di beberapa negara, perkembangan mata uang digital itu pun semakin diperhitungkan. Bang Azhari menceritakan bagaimana kasus penculikan anak di Rusia yang kini mulai meminta bitcoin sebagai bentuk tebusannya. Benar-benar bentuk penculikan jaman now.

Terlepas dari itu semua, Bang Azhari mengaku bahwa sampai hari ini belum mendapat pasword dari akun Steemit yang sudah dibuatnya sejak akhir Desember tahun lalu. Hehehe...
Yang sabar Bang!

#SalamLiterasi

Diskusi Sastra dengan Redaktur Budaya | Ecency