Aku ingin meminangmu
Dengan sujud sembah yang merindu
Bukan dengan janji palsu yang membuatmu meragu
Aku ingin meminangmu
Wahai jelita menanda jiwa
Tapi semangatku masih banci
Masih suka memanjakan diri
Lalu rebah meratap mimpi
Padahal aku begitu bernafsu meminangmu
Tapi hanya mampu menyebut namamu dengan lidah yang kelu
Duhai Dinda penanda mata
Aku tak mampu meramumu dengan kata
Bahkan hingga dunia merangkak senja
Karena kau terlalu indah untuk kulisankan hanya dalam pucatnya bahasa
Atau oleh rangka tanpa nyawa
Tapi seonggok tubuh ini malah ingin meminangmu sepenuh jiwa
Tapi aku malu
Karena aku yang merindu, malah masih berhutang mahar padamu
Padahal kau tak banyak meminta
Hanya selarat lelap sebagai tanda
Dengan bibir basah memuja mesra
Duhai bidadari bermata jeli
Di sepertiga malam ini, izinkan aku meminangmu
Dengan qiyamullail sebagai mahar penanda
Dengan harapan kau juga merinduku dengan rasa yang sama
Kepadamu Ainol Mardhiah, penghuni surga
Kukirimkan salam cinta untukmu
Karena kau telah merajam jiwaku
Utuh tanpa bisu
Asmaul Husna, penikmat sastra dari Pasee.
Medan, 17 Mei 2016
*Tulisan yang saya tulis hampir dua tahun silam, usai membaca buku “Kehebatan Salat Tahajud”