Antara Skripsi Dan Steemit

Words
704
Reading
4 min
Listen
Play
9y

Pada suatu malam, terjadi dialog seru antara jackmun@jackmun dan ariedriyadi@ariedriyadi. Didalam ruangan berukuran 3 x 3 meter dan terlihat seperti kamar tidur tersebut, terdapat tiga orang lainnya selain mereka berdua, yaitu saya, mukmin@mukmin, dan andri@andri. jackmun@jackmun duduk bersender di dinding sebalah utara, di sisi kanannya terdapat sebuah tumpukan kertas yang terlihat seperti skripsi yang sedikit tercoret-coret apakah memang dicoret oleh pembimbing atau memang sengaja mencoret sendiri karena kesal, entahlah.

Ilustrasi Membuat Skripsi 2.jpg
Ilustrasi Membuat Skripsi.

Di sisi kanannya sebuah cangkir duralex berwarna oranye dengan tersisa seperempat gelas cairan berwarna coklat dan sedikit berbuih, cairan coklat tersebut adalah coffemix yang telah diseduh sekitar 2 jam yang lalu, saat diseduh pun air didalam gelasnya tidak penuh, hanya setengah agar kopi tersebut tidak terasa hambar. “Menyo hana coffemix, hana jalan ule”(apabila tidak ada coffemix, saya tidak bisa berfikir), demikian pernyataan jackmun@jackmun kepada saya pada suatu kesempatan, “Jip kupi ta nikmati bacut-bacut, menyo grah bek jip kupi, sideh dum ie lam galon”(minum kopi harus dinikmati sedikit demi sedikit, kalau memang haus jangan minum kopi, di dalam gallon banyak air), dan itulah jawaban mengapa kopi tersebut lama habisnya.

Ilustrasi Coffemix.jpg
Ilustrasi Coffemix.

Wajah jackmun@jackmun terlihat sangat serius dan sedikit kesal, sampai-sapai dahinya berkerut. Ia sepertinya tengah berusaha menfokuskan pandangannya pada layar laptop berukuran 14 inc dan berwarna merah yang ada di depannya, dan seselali melirik ke arah skripsi yang dicoret tadi. Disisi lainnya ariedriyadi@ariedriyadi bersama dengan mukmin@mukmin sedang berusaha terus menerus menggoda jackmun@jackmun untuk ikut kontes photochallenge yang ada di steemit, “break ile, peu skripsi sabe, anleh sidang ho menjak ba?, meunyo steemit ka pasti” (ngapain buat srkipsi selalu, selesai sidang mau bawa kemana?, kalau steemit sudah pasti) demikian bunyi godaannya. jackmun@jackmun merasa kesal dan menggarukkan kepala sembari berkata “awak kah peu lhe?, kajak mita boh-boh sidom keudeh”(kalian apa lu?, apa gak ada kerjaan lain?), sambil berkata demikian jackmun@jackmun kembali mengarahkan jari-jemarinya ke keyboard laptop, dan tiba-tiba “kleep” terdengar suara dari laptop berbarengan dengan laptop tersebut padam.

jackmun@jackmun dengan spontan berkata “aduh, leh na teusimpan bunoe, nyoe cit gara-gara awak kah”(aduh, ada tersimpan apa enggak tadi ya, ni semua memang gara-gara kalian), padahal laptop tersebut memang sudah begitu adanya, kadangkala otomatis padam sendiri dan hidup sendiri. ariedriyadi@ariedriyadi dan mukmin@mukmin tertawa terbahak-bahak, saya yang juga ikut menyaksikan fenomena tersebut tidak sanggup menahan godaan untuk ikut tertawa.

Skripsi.jpg
Ilustrasi Skripsi.

Penjelasan

Apa yang ariedriyadi@ariedriyadi sampaikan kepada jackmun@jackmun memang dengan niat sekedar senda gurau belaka, namun apa yang disampaikannya tersebut memang ada benarnya. Menyelesaikan sripsi merupakan perjuangan yang menguras begitu banyak energi dan dana yang tidak sedikit, skripsi menjadi penentu bagi seorang mahasiswa agar dapat lulus. Selain itu, setelah melalui berbagai tahapan yang pahit akhirnya disidangkan, sehingga bisa mengikuti poses yudisium serta wisuda. Namun selanjutnya bagaimana nasip dari sang skripsi yang telah dibuat dengan cucuran keringat dan tetesan air mata dan tersebut (sedikit hiper bola)?

Source Screenshot From semberpost.com.jpg
Source Screenshot From semberpost.com/Skripsi yang beserakan di salah satu Universitas di Aceh.

Memang tidak dipungkiri ada mahasiswa yang skripsinya dikerjakan oleh orang lain, ini mungkin tidak termasuk kategori. Yang saya maksud disini adalah mahasiswa yang ditengah keterbatasan namun tetap berusaha mengerjakan sendiri, seperti jackmun@jackmun yang telah mengerjakan sripsi semenjak semester delapan, ia setiap harinya harus bertemu dengan sang dosen pembimbing untuk konsul, belum lagi adanya refisi sehingga ia harus mengeprint skripsi berulang-ulang. Ditammbah ia harus tetap membayar biaya SPP tiap semester, hanya untuk hadir di kampus tanpa mata kuliah. Begitu pula jasa dari sang pembimbing yang telah mencurahkan segenap waktu, pikiran, dan tenaga untuk membimbing mahasiswanya. Namun apa yang terjadi dengan sripsi yang begitu hebat tersebut?.

Source Screenshot From news.detik.com.jpg
Source Screenshot From news.detik.com/ skripsi yang di rusak.

Begitulah penampakan dari skripsi yang harus diperbanyak sekian rangkap dan diserahkan ke kampus, tentu para pejuang skripsi akan kesal dan sakit hati. Kenyataan ini berbeda dengan steemit, saat kita menulis sesuatu yang bermuatan posotif di steemit, kita akan diberikan penghargaan apabila memang tulisan kita tersebut bagus. Disini saya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, saya hanya bermaksud menyampaikan kepada pihak kampus terkait yang sudah pasti orang-orang terpelajar, agar dapat sedikit saja menghargai hasil karya orang lain, kalau memang ada rencana ingin dibuang, setidaknya jangan ada instruksi untuk diperbanyak, mengapa tidak meminta softcopy saja, zaman sudah canggih. Demikian pendapat saya dari pernyataan ariedriyadi@ariedriyadi diatas, tidak semua karya yang bagus akan dihargai layaknya kita dihargai oleh para Steemian lain di steemit. Terimakasih.

Antara Skripsi Dan Steemit | Ecency