Pelabuhan AAF yang berada di sebelah barat kota Lhokseumawe ini sempat didaulat menjadi satu-satunya pelabuhan ekspor import dalam maupun luar negri. Banyak kapal-kapal besar maupun kecil merapat ke pelabuhan ini. Salah satu keuntungan dari keberadaan pelabuhan ini adalah sebagai tempat penyaluran kebutuhan petani. Selain itu keberadaan pelabuhan PT. AAF ini juga menjadi salah satu tempat destinasi wisata kebanggaan masyarakat setempat maupun luar daerah
Pelabuhan ini sempat menjadi sebuah destinasi wisata yang dikenal banyak orang, namun setelah terjangan tsunami meluluh lantakkan kawasan pesisir pantai, pelabuhan kebanggaan kota krueng geukuh ini hanya tinggal nama. Punya nama besar serta menjadi kebanggaan ternyata bukanlah satu jaminan. Ketika Tuhan telah Berkehendak lain, maka tidak ada satu kekuatan pun mampu menahannya
---ooo0ooo---
Lihatlah nasibnya kini, kapal-kapal besar yang dulu keluar masuk dan bersandar disini, kini berubah menjadi beberapa boat kecil nelayan pencari ikan. Tidak ada lagi dengungan suara sirine pertanda masuknya kapal besar berbendera asing, tapi hanya teriakan-teriakan para anak-anak ketika boat nelayan pulang membawa tangkapan ikan
Begitu juga tempat-tempat di pesisir pantai, dulu banyak bangunan berderetan menghadap kelaut sebagai tempat rekreasi keluarga, kini berubah menjadi tempat penjemuran serta penjualan ikan dadakan. Sangat miris memang, tapi inilah kenyataan kini
Sepanjang mata memandang, pesisir pantai di sekitar pelabuhan kini tak ubahnya seperti kota mati, hanya sampah yang berserakan yang memenuhi sepanjang bibir pantai. Dan hanya beberapa orang saja yang terlihat duduk menikmati keindahan laut