Dari dulu kami sering mendapatkan pertanyaan, Apache13 itu band dari Aceh mana? Sebab mungkin ada banyak band yang bangun dari kesamaan daerah asal atau satu kesamaan tempat berpangkal. Tidak, Apache13 tidak berasal dari satu daerah, tidak juga dari sama latar belakang. Apache13 mutlak bangkit dari penyatuan segala perbedaan. Di Apache13 Aceh-Aceh bersatu dalam satu irama dan satu kemeriahan. Itu juga kode yang kami tebarkan agar kita selalu bisa berdamai, tidak lagi terhijab halang perbedaan daerah asal, tidak sempit memandang persatuan dan kesatuan, tidak ada ego daerah yang seolah menabalkan kamilah yang utama dan kalian belakangan.
Walaupun konon beberapa daerah di Barat-Selatan Aceh sempat mengklaim bahwa Apache13 berasal dari belahan sana ditinjau dari bahasa lirik, kenyataannya tidak. Jika kalian peka mendengar, Apache13 tidak menggunakan hanya satu dialek saja. Lirik yang digunakan dalam lagu Apache13 berasal dari bahasa Aceh yang universal. Kami tidak sepakat bahwa bahasa Aceh baku berpangkal dari satu daerah saja, maka kami mencampur-baurkan kata-kata yang bisa dipahami oleh setiap orang di Aceh. Tidak ada bahasa Aceh yang kasar sejatinya. Penggunaan huruf "R" redik (gh atau seperti huruf ghain dalam hijaiyah) tidak lantas membuatnya berkesan kasar. Itu dialek belaka. Maka meski menggunakan kata yang dalam pengucapan sehari-hari dalam dialek barat selatan menggunakan "R" redik, dalam pelafalan lirik tetap dipakai "R" normal.
Dari awal memang sudah disepakati bahwa band ini tidak akan dihuni oleh orang-orang yang berasal dari satu daerah yang sama. Agar pemikiran kami lebih kaya, agar ide-ide yang kami angkat dari berbagai cerita masyarakat tempat kami berasal menjadi berwarna. Sudah lumrah, seorang pengkarya akan membawa kerisauan masyarakatnya dalam setiap ide yang akan digarap. Maka berbeda itu membuat kami bisa melihat kerisauan yang bermacam-macam dari masyarakat kami semua, idenya jadi banyak.
Vocalis kami, @gulistan berasal dari Aceh Barat Daya dan berlatar belakang penulis serta kuliah di FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah. Sementara penabuh perkusi kami,
@ikramfahmisy berasal dari Pidie, berlatar belakang anak punk dan pernah berkuliah di Unmuha pada jurusan Studi Manajemen. Pemetik gitar kami,
@amekbarli meski sama tempat kuliah dengan
@gulistan, namun ia berasal dari Langsa.
@nawanisti sang penggeber lead guitar berasal dari Meulaboh Aceh Barat, kuliah di FKIP Penjaskesrek Unsyiah. Sementara bassist kami,
@jamboe13 kuliah S2 di prodi FKIP Biologi Unsyiah, S1 di FKIP Biologi Unmuha dan berasal dari Aceh Besar campur Aceh Barat.
Lalu teman-teman akan bertanya, bagaimana kami bisa bertemu kemudian menyatu dalam sebuah gelora band saat itu? Kuasa semesta raya, saudara-saudara. Segalanya mengalir saja. Nazar Shah mengajar di sekolah Ikram, mereka cocok secara pikiran lalu membangun band. Amek datang ke komunitas yang dibangun Nazar Shah untuk suatu keperluan, di sela menunggu Nazar Shah ia bermain gitar. Dianggap punya modal, dia diajak pula. Ketika Apache13 sebagai band komunitas saat itu manggung di acara komunitas, Amek mengenal Nawan yang diajak bermain di acara yang sama. Apache13 membutuhkan lead guitar, Nawan diajak bergabung. Pada akhirnya, Dhapu diajak oleh Nawan sebab Apache13 membutuhkan seorang bassist untuk kebutuhan jangka panjang. Nyamban!