Gempa bumi dan Tsunami di Aceh pada hari minggu 26 desember 2004 memberikan sebuah kisah yang pilu bagi masyarakat Aceh. Gempa yang terjadi dipagi hari dengan kekuatan 9,3 skala richter meluluh lantakkan bangunan-bangunan di Aceh. Gempa yang terjadi hari itu merupakan gempa terdahsyat yang pernah terjadi di dunia.
Waktu itu dimalam minggu sebelum terjadi gempa, saya menemani adik kandung saya yang berprofesi sebagai guru TK dari Bireuen yang sedang mengikuti lomba festival anak TK (taman kanak-kanak) di lokasi PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) dan mereka peserta lomba menginap disekitar PKA.
Setelah mengajak jalan keliling kota Banda Aceh, saya pun mengantar pulang ke lokasi PKA. Saya tinggal didaerah Prada Utama waktu itu. Tapi karena efek suntuk malam minggu saya tidak menginap dirumah, saya memutuskan untuk menginap dirumah kosan teman daerah Beurawe.
Pagi harinya kami dikejutkan oleh gempa dengan hentakan vertikal dan kemudian baru bergeser horizantal. Gempa dengan kekuatan sebesar itu langsung mengundang kabar kalau Pante Pirak (PP) supermarket yang terkenal masa itu runtuh. Robi kawan saya langsung mengajak saya untuk melihat PP roboh. Namun dikarenakan saya sakit perut dan ingin buang hajat sekalian ngopi pagi, saya pun menolak ajakan kawan tersebut. Dan alhamdulillah mereka mengikuti planning saya yang mau ngopi pagi di Ulee Kareeng Banda Aceh.
Kedai kopi Cek Wan merupakan warkop langganan saya. Saya dan beberapa teman sering ngopi disini. Lagi asik ngopi kami pun dikejutkan dengan suara orang yang berlari sambi meneriaki "ie ka di eek, ie ka di eek" (air sudah naik, air sudah naik). Saya masih belum percaya karena saya berpikir tidak mungkin terjadi banjir karena tidak ada hujan.
Tapi betapa terkejutnya saya ketika melihat anak yang baru lahir masih berdarah yang dibawa lari dari Rumah Sakit Zainal Abidin. Akhirnya saya pun mengajak teman-teman saya untuk pulang dan melihat adik saya yang menginap dilokasi PKA.
Dari atas jembatan Kantor Gubernur saya melihat lokasi PKA yang sudah terendam air setinggi tiang rumah adat Aceh. Saya sudah menganggap adik saya sudah tidak ada lagi saat itu, ditambah lagi informasi bapak yang baru pulang menyelamatkan diri bahwa ada serombongan anak TK yang tenggelam.Ditambah lagi dengan skripsi yang sudah direvisi dirumah kosan direndam air Tsunami membuat pikiran semakin kacau saat itu. Saya mencoba menghubungi kontak hp adik saya namun jaringan telpon dan listrik hari itu padam total.
Tidak terpikiran lagi dengan skripsi yang hanya tinggal menunggu sidang, saya dibantu kawan berkeliling diseluruh tempat di kota Banda Aceh untuk mencari adik saya. Setiap tempat pengungsi dan mayat- mayat korban Tsunami yang sudah diangkut pun saya lihat satu per satu. Halaman rektor Unsyiah di Darussalam menjadi tempat menampung korban yang sudah meninggal saat itu.
Setiap bangunan reruntuhan yang saya lewati ketika berkeliling mencari adik saya, pasti ada mayat yang terjepit. Saya pun turut membantu bersama masyarakat mengangkat mayat yang terjepit direruntuhan bangunan.
Siang dan malam saya merasakan kesedihan melihat korban tsunami yang setiap hari bertambah banyak ditambah lagi kesedihan tidak ada kabar dari keluarga tentang adik saya dikarenakan jaringan komunikasi masih putus. Namun dihari keempat ibu saya menelpon dan mengabarkan adik saya dan anak-anak TK yang dibawa semua selamat.
Mendengar berita itu, saya pun memutuskan untuk berangkat pulang ke Bireuen.
Dan saya pun menamatkan kuliah dan wisuda pada bulan mei 2015. Sungguh suatu berkah dari musibah Tsunami bisa juga menamatkan kuliah bersama beberapa teman yang tinggal DO (Droup Out).
Tsunami yang terjadi di Aceh menelan banyak korban. Banyak saudara saya, teman dekat, dan juga sahabat kampus menjadi korban musibah Tsunami.
Duka yang dalam musibah Tsunami menjadi kenangan yang tidak terlupakan bagi masyarakat Aceh. Setiap tahunnya di tanggal 26 desember masyarakat Aceh memperingati Hari Tsunami dengan menggelar acara seperti berdoa bersama dan membaca yasin bersama.
Semoga mereka para syuhada korban Tsunami yang terlebih dahulu meninggalkan dunia, diberikan tempat yang layak dialam sana. Aamiin.
Kisah tentang Tsunami yang menimpa keluarga, sahabat dan masyarakat Aceh, saya buat dalam satu syair lagu yang bisa didengar pada link soundcloud.
Jester - Wahee Poma
https://soundcloud.com/albert-jester/jester-wahee-poma
Salam Damai,