Puncak burni Telong

Words
795
Reading
4 min
Listen
Play
9y

Pendakian Gunung Burni Telong pada awal 2014, merupakan pendakian pertama saya di Tanah Gayo. Gunung Burni Telong merupakan gunung tertinggi ke- 10 di Provinsi Aceh. Ketinggian Gunung Burni Telong mencapai 2.670 Mdpl.

Gunung Burni Telong terkenal dengan keindahan padang Edelwies, yang pada ketinggian 2.200 Mdpl sudah dapat ditemui tunas-tunas tumbuhan Edelwies di sekitar jalur summit. Beruntung saat kami mendaki Gunung Burni Telong bunga yang hanya dapat tumbuh di dataran tinggi ini sedang dalam musim berbunga.

Gunung Burni Telong terletak di Kabupaten Bener Meriah. Jalur pendakian yang kami tempuh melalui Rute Bandar Lampahan, di Desa Rembune. Menurut informasi yang kami peroleh selain melalui rute ini juga bisa melalui Rute Pante Raya, tapi Rute Pante Raya sangat memakan waktu, karna itu Rute Bandar Lampahan lebih sering dipilih oleh para pendaki.

Rute untuk menuju kaki Gunung di awali dengan perjalanan dari Simpang Lampahan (kalau perjalanan dari Bireuen, Simpang Lampahan berada di sebelah kiri jalan, karna simpang ini tidak memiliki plang nama sebaiknya bole bertanya kepada orang di sekitar lokasi Pemandian Air Panas Bandar Lampahan, pemandian ini lebih populer dari lokasi apapun yg ada di bandar lamapahan). Dari simpang Lampahan masuk kedalam berjalan sekitar 2-3 km, walaupun jalanannya sudah beraspal namun tanjakan-tanjakannya cukup menguras otot betis. Sebagai tanda bahwa kita telah sampai di Desa Rembune, terdapat gapura sederhana yang terbuat dari plat besi yang bertuliskan Selamat Datang di Desa Rembune.

Di Desa Rembune, sudah tersedia POS yang dikelola oleh pemuda desa. Di POS ini setiap pendaki harus meninggalkan kartu indentitas serta membayar retribusi seiklasnya, umumnya para pendaki memberi Rp. 5000-/orang. Bagi yang bawa motor/kereta bisa dititip di POS ini. Bahkan bagi pemula POS ini juga menyediakan guide untuk membantu pendaki hingga sampai ke puncak (soal tarif untuk jasa guide, kita belum sempat bertanya,hehe).

Dari POS Rembune kalau kita naik motor bisa minta di antar jemput ke kaki gunung, jaraknya sekitar 3 km. Dua kali saya naik Gunung Burni Telong selalu sampai di Desa Rembune pada saat hari masih gelap, yang pertama jam 9 malam, ke dua jam 6 pagi, jadi saya selalu dalam keadaan gelap menuju kaki gunung, mungkim karna itu pula penduduk bersedia mengantar ke kaki gunung.

Pendakian perdana di Tanah Gayo ini kami lakukan ber Empat, saya ( ade meyza.f), Rahmat Rinaldi, Isnur Wahyudi dan tuan rumah Riski Afrijal (putra asli Gayo, Takengon). Karna kami tidak mengenal medan pendakian, kami memutuskan tidak langsung melakukan pendakian pada malam itu, walaupun ada di ajak oleh sekelompok anak Mapala UNIMAL, Lhokseumawe yang sedang melakukan kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) mendaki di malam hari, kami tetap memutuskan untuk menginap saja di kaki gunung malam ini.

Pagi Tanggal 20 Januari 2014, udara masih terasa begitu dingin bagi kami, orang-orang yang terbiasa dengan cuaca pesisir, dengan semangat di pagi-pagi sekali, di hari yang masih gelap kami sudah selesai sarapan. Jam 8 pagi kami sudah selesai dengan urusan packing. Kami pun siap memulai perjalanan (trakking).

Lima Belas menit pertama kita akan menyusuri perkebunan kopi, jalur disini masih landai, setelah melewati kebun kopi, kita akan melewati kebun sayur, di perkebunan sayur ini kita tidak akan menjumpai pohon-pohon besar. Di perkebunan yang kita lewati ini kita akan sering bertegur sapa dengan para petani setempat, bahkan terkadang mereka duluan yang menyapa kita, penduduk tanah Gayo memang betul-betul ramah-ramah sangat,,

Melewati kebun sayur, langsung di hadapkan dengan bukit yang berpunggung tinggi, treknya sekitar 100 meter tapi cukup untuk memaksa kita berhenti untuk istirahat. Nahhh, setelah melewati bukit, perjalanan langsung memasuki belantara rimba, tidak butuh waktu lama, cukup 10 menit perjalanan saja cahaya matahari sudah sulit untuk menembus rindangnya dedaunan pohon di dalam hutan.

Trek jalan setapak selama 2 jam masih jelas untuk diikuti, yang susah adalah ketika sampai di jalur pohon tumbang, disini ada simpang Tiga, ke arah kanan, ke arah kiri dan dari arah kita datang. Pada saat kami mendaki kami cukup lama berputar-putar di simpang ini, kami memilih jalir di sebelah kanan , yang pasca pendakian kami ketahui bahwa jalur ini du gunakan untuk para pemburu binatang, karna itu lah jalurnya mutar-mutar. Satu jam kami lamanya berputar-putar di jalur itu, akhirnya kami kembali ke simpang Tiga, dan pilih jalur kiri, dan ternyata benar kami dengan lancar terus mengikuti jalur yang ada. Di jalur ini tidak kami temukan persimpangan jalan yang membingunkan, kami dengan lancar trus ngetrek dengan semangat baja.

Empat jam sudah kami membelah hutan Gunung Burni Telong, memanjat, menyuruk, bergelantungan, melompat adalah cara untuk melewati medan Gunung Burni Telong. Wajar jalur ini memiliki trek Vertikal, karna Rute Bandar Lampahan ini di buka untuk mempercepat jarak tempuh menuju puncak Gunung Burni Telong. Jadi jangan berharap banyak jalan landai, nikmati saja Mennnn. Kami membutuhkan waktu Enam jam untuk sampai di Shelter Camp, walaupun lelah, capek tapi udara rimba berbeda dengan udara di kota, seletih apapun badan, udara yang kita hirup tetaplah sejuk dan selalu dengan cepat menyegarkan badan.

Puncak burni Telong | Ecency