Dani menyelinap masuk ke bawah ketiak Jaki yang masih memegang stang motor lalu duduk jongkok di depan motor. Mahdi duduk di belakang Jaki dan saya duduk di ujung belakang motor. Kami bonceng empat mengejar angkot yang melalui kami begitu saja setelah menunggu bermenit-menit di Tugu Kujang, Bogor.
“Bang, ngadon, Bang!” Teriak kami bergantian.
Kami berhasil mengejar angkot dan membuatnya berhenti agar saya dan Mahdi bisa naik. Saya takjub dengan kejadian tersebut. Hingga akhirnya saya naik angkot dan berpisah dengan Dani dan Jaki, saya masih bertukar pandang dengan Mahdi sambil bertanya-tanya.
“Anjir, bisa bonceng empat gitu ya tadi?”
Namun, hidup juga seringkali begitu. Ada hal yang terjadi tiba-tiba, tanpa kita sempat berpikir mengapa semuanya mengada-ada begitu saja. Kursus Jurnalisme Sastrawi, misalnya.
Saya masih terngiang-ngiang dengan teriak dan tawa Yael, Pemimpin Umum Suara USU, yang tidak berubah sejak awal kursus. Kami, semua peserta, masih pendiam, padahal makan bersama di dekat meja bilyard dan Yael beberapa kali berusaha basa-basi dan tertawa meski obrolan kita semua, bagi saya, tidak mengandung kelucuan jenis apapun. Saya berkesimpulan bahwa dia sangat baik setelah kejadian itu. Begitupun dengan partnernya Widiya, Pimpinan Redaksi dari pers yang sama. Mengobrol dengan Widiya membuat saya percaya bahwa ia pendengar yang sangat baik. Saya akan mengutuk rektor USU seumur hidup atas hal-hal buruk yang telah atau akan terjadi pada mereka.
Saya teringat film Inception yang disutradarai Christopher Nolan pada 2011. Film tersebut bercerita tentang Dominic Cobb yang merangsek ke dalam mimpi pewaris konglomerat besar. Cobb masuk ke dalam mimpi untuk menanamkan ide di kepala Pewaris: menghentikan bisnis ayahnya yang seharusnya ia lanjutkan. Penanaman ide dilakukan di dalam mimpi karena ia dianggap sebagai alam bawah sadar, tempat paling tepat untuk menanam ide. Ketika ide mengada di alam bawah sadar, ia lalu berkembang menjadi serangkaian pikiran dan tindakan yang memengaruhi segala kesadaran target.
Dalam dunia nyata, Cobb menyadap kepala pewaris dalam waktu yang sebentar saja. Tapi dalam dunia mimpi, waktu bergerak sangat lambat. Sebagai contoh, Cobb pernah hidup hingga tua di dalam mimpi padahal di dunia nyata ia hanya melalui beberapa jam saja.
Lantas apa hubungan penanaman ide melalui mimpi dan kursus Jurnalisme Sastrawi? Dua minggu kursus, bagi saya, bukanlah waktu yang lama. Tapi banyak hal yang terjadi dan mengubah hidup saya dalam rentang waktu tersebut, rasanya seperti ada ide yang ditanam di benak saya, dan ia seperti terjadi dalam rentang waktu yang lambat layaknya dunia mimpi. Pengalaman dua minggu itu seperti tidak akan saya dapatkan dalam waktu dua tahun di hari-hari biasa. Sebenarnya saya baru saja menghabiskan waktu dua minggu atau dua tahun?
Waktu terasa cepat dan lambat. Pun di sekretariat Gang Keluarga No. 34 di dekat Binus bersama Adli, Jhon, Ibad dan Tamimi. Waktu terasa lambat karena minggu pertama saya dan Adli masih melempar lelucon yang sama terus-menerus hingga bosan: Kau mau kusekolahkan? Tapi waktu menjadi begitu cepat saat hari-hari di sekret, kini, berlalu dan membikin saya kangen setengah mat.i saya mengucapkan lelucon itu lantas menunggu Adli memaki balik. Saya juga kangen Jhon yang selalu memberikan pendapat tajam ketika diskusi dan rela berkeliling mencari rokok murah tengah malam. Dan, Tamimi dengan suaranya yang menyebalkan saat membangunkan penghuni sekret di pagi hari. Ibad, Pemimpin Umum LPM Al-Mizan, yang kelewat ramah dan sabar.
Kembali ke paragraf ketiga, selain membuat saya bahagia dan kangen, kursus yang terjadi secara tiba-tiba, cepat dan lambat membuat saya takjub berkali-kali. Saya melakukan perjalanan indah ke Depok dan Bogor bersama seorang perempuan tanpa sempat berpikir kenapa itu semua terjadi.
Terkadang saya ingin mengulanginya, tapi ia terlalu aneh dan unik untuk dilakukan lagi. Saya ingin mengulang waktu, memandang matanya yang sendu, memegang tangan dan pipinya, di sudut-sudut Jakarta yang pernah saya datangi selama kursus. Saya ingin menggenggam tangannya di ayunan Apartemen Permata Senayan lalu membuat air di kolam renang menguap karena cemburu. Atau, memegang tangannya di rooftop dan membikin laut di utara Jakarta meluap, menenggelamkan seisi kota bersama genggaman tangan kita, tanpa peduli kemana ibukota pindah setelahnya.
Perempuan itu tidak semanis Dian Sastro. Tapi sambil menggenggam tangannya, saya ingin membacakan puisi Soebagio Sastrowardojo, kakeknya Dian, berjudul Manusia Pertama di Angkasa Luar.
Beritakan pada dunia / bahwa aku telah sampai pada tepi.
Saya ingin membaca puisi tersebut, agar semua dunia tahu bahwa waktu, yang berlalu tiba-tiba dan cepat sekaligus lambat, yang kami jalani patut untuk diberitakan dan dirayakan. Kami, saya dan perempuan itu secara khusus dan seluruh peserta kursus secara umum, patut merayakan segala pertemuan dan perpisahan di hari-hari lalu.
Namun, saya tidak ingin membaca larik selanjutnya: dimana aku tak mungkin lagi kembali.
Saya tak sanggup membaca larik itu karena saya ingin semuanya kembali. Saya sebal sekali dengan larik itu. Tak kalah sebal dengan Andreas yang menebak bahwa kami, 20 peserta kursus, tidak akan bisa berkumpul lagi. Bagian paling menyebalkan adalah tebakan Andreas selalu jitu.
Saya ingin berkumpul lagi dengan mereka semua dalam keadaan lengkap. Berkumpul dengan Ummul yang tidak terkontrol ketika mabuk: menumpahkan asbak di kosan saya, melempari saya kulit kacang, dan kelakuannya lainnya yang membuat kepala saya ingin meledak. Berkumpul dengan Nia dan bercerita tentang tekanan sosial kami masing-masing. Cappa’ dan Mike dari LBH yang juga senang diskusi seperti Jhon. Semuanya. Meskipun saya tidak bisa menyebut nama mereka satu per satu di tulisan ini. Tapi tanpa salah satu dari mereka saja, apa-apa yang terjadi di kursus tentu akan lain lagi. Saya harap ia tidak lebih indah daripada kita berkumpul secara lengkap. Sungguh.
Kursus selesai.
Keesokan hari setelah saya bonceng empat mengejar angkot, saya berangkat ke Yogya, menaiki bis Pahala Kencana dari Bubulak, Bogor. Hingga berada di bis, draft tulisan ini masih terus saya sunting. Banyak hal yang ingin saya ceritakan, tapi saya tidak terbiasa menjadi terlalu melankolis.
Sebagai ganti tidak bisa menulis nama kalian satu per satu, saya ingin melompat ke bait akhir puisi Soebagio, dan mengganti kata Bunda dengan Kawan.
Dan salam kepada mereka yang kepadaku / mengenang. / Jagat begitu dalam, jagat begitu diam / Aku makin jauh, makin jauh / Dari bumi yang kukasih, Hati makin sepi / Makin gemuruh /
Kawan, / Jangan biarkan aku sendiri. Soebagio Sastrowardojo—Manusia Pertama di Angkasa Luar
Note: ditulis oleh Sidra, teman saya saat mengikuti kursus Jurnalisme Sastrawi di Pantau. Saya tidak tau mengapa ia meminta saya mengunggahnya, sebagai seorang teman saya langsung mengiyakannya. Tabik Sidra!