(Keadaan)
Sudah lama tidak bertemukan. Bukan salah kita, bukan siapa yang paling sombong. Pada titik ini, aku sepenuhnya menyalahkan keadaan. Jika boleh, aku ingin sekali kau memutar kembali ingatan. Bacalah!, Apa percakapan terakhir kita.
Iya, aku tau. Kau tak mampu untuk itu. Sama sepertiku. Padahal kita sudah sangat dekat, seperti ruh kita tak berjarak. Memang, perjalanan, teman baru, dan, kasih sayang baru bisa melupakan semua masa lalu. Tapi ada, manusia masa lalu. Kerjaannya hanya mengeja kesedihan. Aku tidak mau kau begitu. Ingatlah yang baik-baik, Bie.
Aku rasa keadaan mulai merasa bersalah. Sehingga mempertemukan kita kembali. Atau semesta, mulai serius. Aneh saja, kita tidak pernah bertemu sejak empat tahun belakangan ini. Tapi bagaimana bisa, tiba-tiba aku rindu padamu.
Mengingatmu kembali adalah hal yang bodoh pernah aku lakukan. Keadaan memaksaku. Aku takut, bisa jatuh cinta padamu. Apakah keadaan sebersalah itu, Bie?. Harus aku katakan itu, sebab rasa ini, sudah ada sejak kita berteman dulu. Cuman dia hanya bisa diam dan mengerti pada keadaan.
Langsung saja senyumku melebar saat aku ingat nama panggilan itu. Berbie. Haha, memang kecantikanmu seperti itu. Tapi kau malah mengaku seperti Jamilah.
Akhirnya saat aku merasa rindu. Langsung, kucari kontakmu dan menyapamu dengan sedikit puisi gerimis yang pernah kita tulis bersama. Ohya, aku juga belum mengabulkan permintaanmu untuk mengirim puisi itu ke koran-koran. Emang siapa yang mau membaca puisi pendek disudut koran, Bie.
Kau malah bersikap dingin padaku. Aku mengerti, mungkin kau masih marah pada keadaan. Tapi sikap dinginmu itu. Membuatku menulis ini. Kau banyak berubah. Wajah berbie-mu itu sudah kau tutup dengan kain tipis. Orang-orang mengejekmu ninja, bukan?. Jangan hiraukan mereka. Jalanmu itu benar.
Yang aku heran, Bie. Mengapa sekarang kau suka sekali mengeja laut. Bermain disana setiap pagi Minggu. Aku baru ingat, kita tidak menciptakan kenangan satupun di laut, ya kan?. Ooh, aku tau, jangan-jangan ini bentuk pelarian dari banyak masa kelammu. Tak masalah, itu jalanmu sekarang. Tapi aku ingin memberi lakop baru padamu; Wanita Pengeja Laut.
Ohya, alasan aku menulis ini hanya karena rindu. Aku yakin, Bie. Rindu lebih dahsyat daripada cinta. Jika memang kau menganggap aku mulai mencintaimu, itu tak masalah. Mungkin keadaan ingin meminta maaf pada masa lalu kita.