"Nak, sekolah kau. Supaya cerdas dan sukses nantinya..."
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa sekolah adalah satu-satunya tempat berjalannya proses belajar yang lebih menyenangkan. Sekolah sebagai pembentuk kecerdasan tetap. Dan di sekolah kita melakukan gaya pembelajaran yang sama. Di sekolahan terdapat kawan yang mengasyikkan, pasti akan menjadikan proses ngajar-mengajar lebih ceria.
Jangan salah, di era modern seperti sekarang ini. Telah banyak sekolah-sekolah swasta khususnya, yang mulai menerapkan proses belajar yang lebih dinamis; seperti terdapat guru-guru yang menyenangkan, proses belajar menggunakan konsep multiple dan intelligence, sekolah dan buku-buku penuh warna, dan tentu saja sangat banyak hal-hal menyenangkan lainnya.
Tetapi, kerap kali hanya sedikit saja orang yang bisa merogoh kantong untuk mendapatkan semua kesenangan dan kenyamanan dari 'sekolah' seperti itu. Tentunya untuk mendaftarkan anak pada sekolah yang memiliki kenyamanan, akan memakan biaya yang sangat menekan.
Asumsi sekolah sebagai hal yang menyenangkan adalah sebuah mitos belaka!
Belajar bukanlah bekerja. Belajar adalah kebutuhan hidup, dengannya manusia bisa menjadi sosok manusia yang lebih mandiri. Karena itulah, manusia seharusnya bisa belajar di manapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik, atau yang berguna untuk dipelajari. Bukan hanya di sekolahan saja. Apalagi keterbatasan kerap kali didapatkan oleh mereka yang berada di tempat sekolah-sekolah terpencil.
Sekolah dengan gaya belajar yang sama adalah sebuah mitos!
Tanpa semangat belajar, tanpa tekad yang kuat untuk belajar terhadap hal apapun, acap kali ketika lulus dari sekolah, mereka tergagap-gagap melihat realitas dunia.
Tanpa semangat belajar, maka ketika berada di sekolah, mereka hanya mengikuti sistem, mendengarkan dan mengekor di belakang zaman. Tombol di pencet, kaset-kaset lama kembali terputar di setiap tahunnya. Setiap kali memasuki kelas dan memulai proses ngajar-mengajar. Maaf, bukannya proses ngajar-mengajar. Tetapi setiap anak tak lain mereka hanya menyaksikan celoteh, gerak-gerik, serta tingkah robot yang mendapat reward di depan kelas. Dan sekolah pun berubah wujudnya menjadi sebuah televisi yang dipertontonkan.
Tanpa semangat belajar, sekolahan hanyalah sebuah mitos!
Semua tergantung kita, apakah tetap ingin menjadikan sekolah sebagai televisi yang di tonton oleh setiap anak?